Showing posts with label Keresahanku. Show all posts
Showing posts with label Keresahanku. Show all posts

Thursday, June 4, 2020

Selamat Hari Pendidikan 2020, Generasi Emas Negeriku

Bapak Ibu, Saudara-saudara, teman-teman semuanya, selamat memeringati Hari Pendidikan Nasional 😊. 

Saya percaya pendidikan adalah bekal untuk membangun peradaban manusia menjadi lebih baik. 

Pendidikan tak melulu tentang belajar di kelas. Belajar bisa dilakukan di mana saja, kpd siapa saja, dan terhadap apa saja, melalu berbagai cara yg sekiranya nyaman buat kita. Misal dengan membaca, mengamati, mendengar, diskusi (ngobrol), atau cara2 lainnya asalkan kita bisa jeli "mencuri" ilmu dlm setiap aktivitas di hidup kita. 

Semakin hari semakin saya sadari bahwa betapa pentingnya pendidikan karakter, betapa luar biasa dampaknya, dan sebisa mungkin ditanamkan sejak dini. Masih banyak dr kita yg meremehkan budaya antri. Main srobot sana sini, tanpa menyadari tindakannya menyakiti banyak hati dan telah merampas hak org lain. Bagi saya, itu sebuah kedzaliman trhdp org lain. 

Masih banyak dr kita yg tanpa merasa berdosa menerobos lalu lintas, dan hanya mematuhi jika ada polisi tanpa memikirkan bahaya yg mengancam diri bahkan org lain. Saya percaya, peraturan itu ada krn adanya ketidakteraturan. Peraturan bs menjadi sarana agar sesuatunya berjalan teratur. Lihat saja negara2 maju klo kita ingin lihat hasil dr sebuah ketaatan terhadap peraturan. Jalan dan sungai bersih sekali krn warganya taat membuang sampah di tempatnya. Yg menikmati siapa? Ya masyarakat itu sendiri, mereka yg menaati peraturan, mereka juga lah yg menikmati hasilnya. 

Masih banyak dr kita yg meremehkan hal-hal kecil seolah hal kecil tersebut tak berpengaruh trhdp apapun dan tak mungkin menjadi hal besar. Pdhl lilin menyala yg tak sengaja jatuh dan apinya mengenai korden jendela, dampaknya mungkin sekali bs smpai menghanguskan seisi rumah tersebut.

 Masih banyak dr kita yg punya mental menjatuhkan, dan bukan malah mendukung. Ada teman yg punya rencana/mimpi besar, bukannya disemangati malah diejek mimpinya terlalu tinggi. Bagaimana akan tumbuh generasi gemilang jika mimpi saja tak boleh, jika mimpi saja dicaci maki dan dibully. 

Masih banyak dr kita yg tdk bisa mengapresiasi pilihan org lain, bhkan lebih buruknya smpai pd tahap membenci hanya krn beda pendapat, beda pilihan, beda persepsi, hanya karena tingginya ego dan sempitnya literasi. 

Masih banyak dr kita yg mementingkan diri sendiri seolah tak peduli bahwa org lain trnyata sangat terganggu dg kesewenangan kita. Contoh sederhana, memutar video youtube volume maks di dlm kereta, tnpa peduli bnyak telinga yg risih mendengarnya. Semua org di dlm gerbong "dipaksa" mendengar video kita yg tak selalu nyaman untuk telinga mereka atau bnyak dr kita yg parkir sembarangan tanpa peduli banyak kendaraan terhalang olehnya. Pokoknya hasrat diri sendiri terpenuhi. 

Masih banyak dari kita yg meremehkan disiplin termasuk disiplin waktu krn merasa itu bukan hal penting, smpai akhirnya tersadar ketika ketinggalan kereta/pesawat krn telat 1 menit. 

Masih banyak dr kita yg meremehkan kesalahan kecil dan mentolerirnya, smpai pd titik kesalahan trsebut menjadi kebiasaan dan dianggap bukan kesalahan. Org2 yg mentolerir pungli, udh gapapa cuma 5 rb, cuma 10 rb, cuma 20 rb. Mereka tidak sadar kebiasaan itu bisa terbawa smpai dewasa dan pd akhirnya merasa masih biasa saja ketika korupsi jutaan atau miliaran. Sekali lagi krn kesalahan kecil yg ditolerir, lantas dianggap biasa dan ngga papa. Akhirnya terbentuklah mental-mental koruptor yg menggerogoti uang "saudara" sendiri. 

Masih banyak dr kita yg sukar untuk mengucapkan minta tolong dan terimakasih krn gengsi atau menganggap itu hal yg tak penting. Pdhl jika itu dibiasakan sejak dini, maka anak akan belajar bahwa kita ini hidup perlu bantuan org lain dan perlu menghargai usaha org lain sekecil apapun itu. 

Sungguh, pendidikan karakter jauh lebih sulit dipahami dan dipraktekkan dr pd memecahkan soal matematika atau soal-soal fisika. 

Kita terlalu banyak dan lama sekali terlena akan angka-angka di rapot. Lalu gampang sekali memberi gelar pintar pd mereka yg nilainya 100 dan bodoh pd mereka yg nilainya 0. Masa depan gemilang jika memperoleh rangking 1, dan masa depan suram jika rangking absen terakhir. Sebuah judgment yg bisa saja membunuh harapan2 banyak anak. 

Mari bersama-sama belajar kembali dan memaknai apa itu menghormati, apa itu mengapresiasi, apa itu berbudi pekerti, apa itu memahami, mengerti dan bagaimana bersikap manusiawi. Pendidikan karakter akan selalu berguna sepanjang hayat, manfaat dan bahayanya mampu menjangkau banyak umat, tapi banyak dr kita yg masih memandangnya sebelah mata. Kita khawatir  jika kita, anak kita, atau saudara kita tak pandai matematika. Tapi kita abai jika mereka buang sampah sembarangan, tak pandai antri, meminta tolong, dan berterimakasih.

 Semoga di hari pendidikan ini, kita tdk hanya mengingatnya sbg hari pendidikan secara ritual tahunan, tp juga dpt memaknai scra substansial agar generasi-generasi kita tumbuh dan berkembang dg karakter yg melekat. 

Saya menulis ini bukan berarti saya paling benar dan mengerti, oleh karenanya saya pakai subjek "kita" dg tujuan bs menjadi bahan renungan saya, dan panjenengan semua. 


Sekali lagi, selamat hari pendidikan 😊

Ini keresahanku,
Apa, keresahanmu? 


Keresahan ini sebelumnya saya tulis di akun facebook saya pada tanggal 2 Mei 2020.

#SelamatHariPendidikan2020
#Bangkitlahgenerasiemasnegeriku
#CoretanHam
#Let'sInspire

Resah Ditinggal Kekasih (Bulan Ramadhan)

Apa yang kita rasakan di malam terakhir Ramadhan ini?

Senang kah kita krn segera "terlepas" dari kewajiban berpuasa (menahan)?
Atau sedih kah kita karena merasa masih "terbelenggu" oleh nafsu?

Siapkah kita meneruskan apa yg telah kita mulai, pelajari, dan biasakan di bulan ramadhan? 


Jangan-jangan kita justru merasa bebas setelah ini karena sudah bukan bulan ramadhan,

Jangan-jangan bulan ramadhan hanya penyemangat ibadah kita sesaat karena iming-iming balasan dr Tuhan yg begitu menggiurkan,

Jangan-jangan ramadhan menjadi bukti ketidakikhlasan kita dalam beribadah kepadaNya.


Apa betul mulai lusa kita tetap bangun sebelum subuh untuk beribadah?

Apa betul sepanjang hari kita masih tetap berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah, menjaga lisan, dan melawan nafsu keburukan?

Apa betul setiap hari/malam kita tetap setia membaca berlembar-lembar mushafNya lalu merenungkan ayat-ayatNya?

Apa betul kita masih istiqomah menyegarakan sholat isya spt halnya di bulan ramadhan krn segera ingin sholat tarawih?

Apa betul kita masih berkenan bersedekah meski tanpa imbalan pahala yg berlipat-lipat?

Apa betul bulan ramadhan telah "membiasakan" diri kita untuk beribadah?
Apa betul ketika syawal tiba dan setelahnya kita telah siap meneruskan apa yg kita mulai di bulan Ramadhan?


Ilahi Robbi,
Mungkin saja ini ramadhan terakhir kami,
Jadikan lah setiap kebaikan yg kami lakukan semuanya karena hanya mengharap ridhoMu,
Meski kami tau,
kami adalah hamba yang (masih) selalu mengharap imbalan dariMu.


Ya ilahi,
Jika ini ramadhan terakhir kami, 
Semoga ini menjadi ramadhan penuh keberkahan untuk sisa hidup kami,
Dan jika esok lusa adalah hari kemenangan terakhir kami,
Semoga Engkau jadikan kami termasuk hamba yg kembali fitri, dan terus menjadi fitri berkat bimbinganMu.

Aamiin. Aamiin. Aamiin.

Ini keresahanku,
Apa, keresahanmu? 

#Ramadhankareem
#CoretanHam
#Let'sInspire

Keresahan ini sebelumnya saya tulis di akun facebook saya di tengah kesyahduan malam terakhir Ramadhan 1441 H/ 22 Mei 2020.