Thursday, June 4, 2020

Selamat Hari Pendidikan 2020, Generasi Emas Negeriku

Bapak Ibu, Saudara-saudara, teman-teman semuanya, selamat memeringati Hari Pendidikan Nasional 😊. 

Saya percaya pendidikan adalah bekal untuk membangun peradaban manusia menjadi lebih baik. 

Pendidikan tak melulu tentang belajar di kelas. Belajar bisa dilakukan di mana saja, kpd siapa saja, dan terhadap apa saja, melalu berbagai cara yg sekiranya nyaman buat kita. Misal dengan membaca, mengamati, mendengar, diskusi (ngobrol), atau cara2 lainnya asalkan kita bisa jeli "mencuri" ilmu dlm setiap aktivitas di hidup kita. 

Semakin hari semakin saya sadari bahwa betapa pentingnya pendidikan karakter, betapa luar biasa dampaknya, dan sebisa mungkin ditanamkan sejak dini. Masih banyak dr kita yg meremehkan budaya antri. Main srobot sana sini, tanpa menyadari tindakannya menyakiti banyak hati dan telah merampas hak org lain. Bagi saya, itu sebuah kedzaliman trhdp org lain. 

Masih banyak dr kita yg tanpa merasa berdosa menerobos lalu lintas, dan hanya mematuhi jika ada polisi tanpa memikirkan bahaya yg mengancam diri bahkan org lain. Saya percaya, peraturan itu ada krn adanya ketidakteraturan. Peraturan bs menjadi sarana agar sesuatunya berjalan teratur. Lihat saja negara2 maju klo kita ingin lihat hasil dr sebuah ketaatan terhadap peraturan. Jalan dan sungai bersih sekali krn warganya taat membuang sampah di tempatnya. Yg menikmati siapa? Ya masyarakat itu sendiri, mereka yg menaati peraturan, mereka juga lah yg menikmati hasilnya. 

Masih banyak dr kita yg meremehkan hal-hal kecil seolah hal kecil tersebut tak berpengaruh trhdp apapun dan tak mungkin menjadi hal besar. Pdhl lilin menyala yg tak sengaja jatuh dan apinya mengenai korden jendela, dampaknya mungkin sekali bs smpai menghanguskan seisi rumah tersebut.

 Masih banyak dr kita yg punya mental menjatuhkan, dan bukan malah mendukung. Ada teman yg punya rencana/mimpi besar, bukannya disemangati malah diejek mimpinya terlalu tinggi. Bagaimana akan tumbuh generasi gemilang jika mimpi saja tak boleh, jika mimpi saja dicaci maki dan dibully. 

Masih banyak dr kita yg tdk bisa mengapresiasi pilihan org lain, bhkan lebih buruknya smpai pd tahap membenci hanya krn beda pendapat, beda pilihan, beda persepsi, hanya karena tingginya ego dan sempitnya literasi. 

Masih banyak dr kita yg mementingkan diri sendiri seolah tak peduli bahwa org lain trnyata sangat terganggu dg kesewenangan kita. Contoh sederhana, memutar video youtube volume maks di dlm kereta, tnpa peduli bnyak telinga yg risih mendengarnya. Semua org di dlm gerbong "dipaksa" mendengar video kita yg tak selalu nyaman untuk telinga mereka atau bnyak dr kita yg parkir sembarangan tanpa peduli banyak kendaraan terhalang olehnya. Pokoknya hasrat diri sendiri terpenuhi. 

Masih banyak dari kita yg meremehkan disiplin termasuk disiplin waktu krn merasa itu bukan hal penting, smpai akhirnya tersadar ketika ketinggalan kereta/pesawat krn telat 1 menit. 

Masih banyak dr kita yg meremehkan kesalahan kecil dan mentolerirnya, smpai pd titik kesalahan trsebut menjadi kebiasaan dan dianggap bukan kesalahan. Org2 yg mentolerir pungli, udh gapapa cuma 5 rb, cuma 10 rb, cuma 20 rb. Mereka tidak sadar kebiasaan itu bisa terbawa smpai dewasa dan pd akhirnya merasa masih biasa saja ketika korupsi jutaan atau miliaran. Sekali lagi krn kesalahan kecil yg ditolerir, lantas dianggap biasa dan ngga papa. Akhirnya terbentuklah mental-mental koruptor yg menggerogoti uang "saudara" sendiri. 

Masih banyak dr kita yg sukar untuk mengucapkan minta tolong dan terimakasih krn gengsi atau menganggap itu hal yg tak penting. Pdhl jika itu dibiasakan sejak dini, maka anak akan belajar bahwa kita ini hidup perlu bantuan org lain dan perlu menghargai usaha org lain sekecil apapun itu. 

Sungguh, pendidikan karakter jauh lebih sulit dipahami dan dipraktekkan dr pd memecahkan soal matematika atau soal-soal fisika. 

Kita terlalu banyak dan lama sekali terlena akan angka-angka di rapot. Lalu gampang sekali memberi gelar pintar pd mereka yg nilainya 100 dan bodoh pd mereka yg nilainya 0. Masa depan gemilang jika memperoleh rangking 1, dan masa depan suram jika rangking absen terakhir. Sebuah judgment yg bisa saja membunuh harapan2 banyak anak. 

Mari bersama-sama belajar kembali dan memaknai apa itu menghormati, apa itu mengapresiasi, apa itu berbudi pekerti, apa itu memahami, mengerti dan bagaimana bersikap manusiawi. Pendidikan karakter akan selalu berguna sepanjang hayat, manfaat dan bahayanya mampu menjangkau banyak umat, tapi banyak dr kita yg masih memandangnya sebelah mata. Kita khawatir  jika kita, anak kita, atau saudara kita tak pandai matematika. Tapi kita abai jika mereka buang sampah sembarangan, tak pandai antri, meminta tolong, dan berterimakasih.

 Semoga di hari pendidikan ini, kita tdk hanya mengingatnya sbg hari pendidikan secara ritual tahunan, tp juga dpt memaknai scra substansial agar generasi-generasi kita tumbuh dan berkembang dg karakter yg melekat. 

Saya menulis ini bukan berarti saya paling benar dan mengerti, oleh karenanya saya pakai subjek "kita" dg tujuan bs menjadi bahan renungan saya, dan panjenengan semua. 


Sekali lagi, selamat hari pendidikan 😊

Ini keresahanku,
Apa, keresahanmu? 


Keresahan ini sebelumnya saya tulis di akun facebook saya pada tanggal 2 Mei 2020.

#SelamatHariPendidikan2020
#Bangkitlahgenerasiemasnegeriku
#CoretanHam
#Let'sInspire

Resah Ditinggal Kekasih (Bulan Ramadhan)

Apa yang kita rasakan di malam terakhir Ramadhan ini?

Senang kah kita krn segera "terlepas" dari kewajiban berpuasa (menahan)?
Atau sedih kah kita karena merasa masih "terbelenggu" oleh nafsu?

Siapkah kita meneruskan apa yg telah kita mulai, pelajari, dan biasakan di bulan ramadhan? 


Jangan-jangan kita justru merasa bebas setelah ini karena sudah bukan bulan ramadhan,

Jangan-jangan bulan ramadhan hanya penyemangat ibadah kita sesaat karena iming-iming balasan dr Tuhan yg begitu menggiurkan,

Jangan-jangan ramadhan menjadi bukti ketidakikhlasan kita dalam beribadah kepadaNya.


Apa betul mulai lusa kita tetap bangun sebelum subuh untuk beribadah?

Apa betul sepanjang hari kita masih tetap berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah, menjaga lisan, dan melawan nafsu keburukan?

Apa betul setiap hari/malam kita tetap setia membaca berlembar-lembar mushafNya lalu merenungkan ayat-ayatNya?

Apa betul kita masih istiqomah menyegarakan sholat isya spt halnya di bulan ramadhan krn segera ingin sholat tarawih?

Apa betul kita masih berkenan bersedekah meski tanpa imbalan pahala yg berlipat-lipat?

Apa betul bulan ramadhan telah "membiasakan" diri kita untuk beribadah?
Apa betul ketika syawal tiba dan setelahnya kita telah siap meneruskan apa yg kita mulai di bulan Ramadhan?


Ilahi Robbi,
Mungkin saja ini ramadhan terakhir kami,
Jadikan lah setiap kebaikan yg kami lakukan semuanya karena hanya mengharap ridhoMu,
Meski kami tau,
kami adalah hamba yang (masih) selalu mengharap imbalan dariMu.


Ya ilahi,
Jika ini ramadhan terakhir kami, 
Semoga ini menjadi ramadhan penuh keberkahan untuk sisa hidup kami,
Dan jika esok lusa adalah hari kemenangan terakhir kami,
Semoga Engkau jadikan kami termasuk hamba yg kembali fitri, dan terus menjadi fitri berkat bimbinganMu.

Aamiin. Aamiin. Aamiin.

Ini keresahanku,
Apa, keresahanmu? 

#Ramadhankareem
#CoretanHam
#Let'sInspire

Keresahan ini sebelumnya saya tulis di akun facebook saya di tengah kesyahduan malam terakhir Ramadhan 1441 H/ 22 Mei 2020.

10 Hal yang Kalian Harus Tau tentang Ujian Semster di Bangku Perkuliahan

Hai teman, ketemu lagi nih ehhehe..

Oke, saya mau bahas sedikit tentang tipe- tipe soal ujian mahasiswa yaa..

Sebelumnya, kalau di sekolah mekanisme ujian hampir semuanya sama ya, biasanya sih dateng ke sekolah, tempat duduknya udh ditentuin sesuai nomor ujian, trus dikasih soal multiple choice sm essay, udah selesai. Sama ngga sih mekanisme ujian di  perkuliahan dg sekolah?

Jawabannya, tidak sepenuhnya sama. Ada beberapa perbedaan antara ujian di sekolah sm di perkuliahan. Coba perhatikan baiq-baiq yaa..

Disclaimer: Apa yg saya sampaikan adalah opini saya berdasarkan pengalaman kuliah saya. Jadi tidak bisa digeneralisir ya teman-teman. Bisa jadi di luar sana ada yg berbeda. Oke?


1. Tempat duduk

Kalau siswa punya nomor ujian, mahasiswa juga punya nomor ujian. Tempat duduknya pun juga ditempel nomor ujian, jadi kita duduk sesuai nomor. Biasanya sih masih urut presensi. Tapi, jarak antar tempat duduk diberi ruang kurang lebih 1 meter.


2. Syarat masuk kelas saat ujian

Di kampus saya ada hal wajib yang harus dibawa saat ujian, yaitu kartu tanda mahasiswa (ktm), atau kartu pelajar kalau di sekolah dan kartu rencana semester (krs). Apa tuh krs? Krs adalah lembaran yg berisi mata kuliah yang kita ambil selama satu semester, yang sudah dibubuhi ttd dosen wali. 

Kenapa ktm dan krs dibutuhkan saat ujian?

Ktm menunjukkan nomor induk mahasiswa (nim) dan foto mahasiswa. Jd ktm sebagai bukti bahwa peserta ujian betul-betul mahasiswa kampus tersebut. Di ktm juga ada foto mahasiswa. Jadi, selain fungsi yg telah saya sebutkan, ktm juga menjadi bukti bahwa orang yang datang mengerjakan adalah org yg sama dengan nama dan foto di ktm. Ini dilakukan untuk menghindari proses curang saat ujian (perjokian). Perjokian adalah proses di mana ada orang yang membayar orang lain untuk mengerjakan ujian yg seharusnya ia lakukan. Ini tindakan tidak baik ya teman, jd jangan ditiru 😊

Nah, kalau krs dibutuhkan sebagai bukti bahwa peserta ujian merupakan mahasiswa yang mengambil mata kuliah yg sedang diujikan yg telah diambil di awal semester dan disetujui dosen wali. Jadi, mahasiswa tidak bisa asal ikut ujian yg ada. Harus sesuai dg mata kuliah yg ada di lembar krs mereka.

Jadi jangan sampai ketinggalan ya ktm dan krsnya. Karena, pengawas pasti mengecek ktm dan krs kalian saat memberi presensi ujian. Kalau ndak bawa gmn? Opsinya ada 2. Ga bs ikut ujian, atau mahasiswa disuruh pulang ngambil πŸ˜…


3. Tipe-tipe soal ujian

Soal-soal ujian di perkuliahan bermacam-macam. 

a. multiple choice (pilihan ganda)

Ada yg 100% multiple choice. Jumlah soalnya biasanya 50-100 soal. Waktu mengerjakannya cukup singkat karena kita hanya perlu menyilang atau menebalkan lembar jawaban. Waktunya berkisar 60-100 menit aja. Nah karena hanya ada satu jawaban benar dalam soal multiplechoice, maka biasanya lembar jawaban dikoreksi menggunakan scanner, hampir semua dosen menggunakan scanner. Jadi yg perlu dicatat apabila soalnya multiple choice adalah, coretan (x atau penebalan) harus tebal, supaya terdeteksi mesin scanner. Dosen tidak pernah mewajibkan memakai pensil 2B. Pakai bolpoin juga bisa, asal tebal agar terbaca jawabannya saat dikoreksi mesin scanner.  

b. Essay

Ada yang 100% essay. Biasanya jumlah soal tipe ini tidak banyak. Maksimal 15 soal, itu udh banyak banget. Karena, model essay di perkuliahan biasanya lebih ke soal studi kasus yg mengutamakan nalar dr temen-temen. Jd dosen memberi sebuah contoh masalah tentang suatu topik, dan kita diminta untuk memberi solusi berdasarkan teori yg ada. Berbeda dg soal di sekolah yg biasanya soal essay lebih banyak menanyakan perihal teori.  Untuk tips soal essay, tulisan harus bisa terbaca dosen (ndak harus bagus), karena jika tdk terbaca, maka dianggap salah karena gimana dosen bisa ngerti kalau dibaca aja ngga bisa ? πŸ˜…

Jawaban jangan belepotan ngalor ngidul, yg penting to the point (bukan berarti ga boleh pnjang ya). Karena jawaban essay berbeda-beda, maka dosen akan mengoreksinya secara manual, begitu juga dg pmberian nilainya yg tidak mutlak sprti nilai multiple choice. Biasanya di lembar soal ujian, juga dicantumkan skor nilai maksimal yg bisa diperoleh. Misal no 1 skor 20, no 2 skor 30, begitu seterusnya. Jadi, tips lagi nih, usahakan untuk mendahulukan menjawab soal yg skornya tertinggi, untuk mengantisipasi waktu habis sebelum temen2 menyelesaikan semua soal. Terakhir, untuk model soal essay, usahakan jangan sampai ada jawabn kosong. Jawab sebisa mungkin, karena dosen akan menghargai kawaban temen2 meski hanya dikasih poin 2, lumayan kan? πŸ˜…

Jumlah soal essay juga bisa lo cuma 2 soal. Ha 2 soal yg bener? Iya, jumlah soalnya memang cuma 2, tapi jawabnnya bisa sampai 2 lembar bolak balik alias 4 halaman. Hahahaha

So, yg sabar kalo dapat soal 100% essay πŸ˜…πŸ˜…

c. Gabungan

Ini kombinasi antara multiple choice dengan soal essay. Tapi, saya jarang menemui soal ini. Mungkin krn dosen harus dua kali mengoreksi ya. Kalaupun ada biasanya soal multiple choicenya ndak banyak, sekitar 20-25 soal. Sisanya 5-10 soal berupa essay. Yg mana yg perlu didahulukan?
Liat dulu skor maksimal untuk masing-masing tipe. Baru kita bisa memutuskan mana yg sekiranya perlu didahulukan.

4. Soal Take Home

Nah, ini yg kurang disukai banyak mahasiswa. Wkwk
Soal takehome adalah soal ujian yg dikerjakan di luar kelas. Bisa di kampus, atau di kos, bisa juga dikerjakan bareng sama temen-temen. Wih, enak dong?

Ets, sabar dulu.
Karena "enaknya" itu, makanya soal takehome biasanya lebih susah karena waktu yg diberikan juga biasanya lebih lama. Waktu mengerjakannya bisa smpe 3-7 hari lo, tergantung tingkat kesulitannya. Contoh penugasan ujian yg bersifat takehome adalah bikin makalah, paper, perencanaan, jurnal, dsb. Ada juga yg dibuat kelompok. Jadi, agak unik memang soal takehome ini.

Yg mesti diperhatikan adalah temen2 harus ontime saat mengumpulkan tugas takehome. Karena akibatnya bisa smpai fatal kalau tdk ontime, mulai pengurangan nilai sampai tugas dianggap tidak dikerjakan alias nilai ujian 0 😐

5. Praktik percontekan

Saat kuliah, praktik percontekan ruangnya sangat dipersempit. Mulai dr soal essay yg berupa studi kasus (jd tidak memungkinkan untuk nyontek), jarak tiap kursi +- 1 meter, waktu ujian yg sgt singkat sdgkan jwbannya sgt menguras tenaga jari πŸ˜…, boro-boro mau ngasih contekan, kerjaan sendiri aja belum kelar kan πŸ˜…, smpai hukuman yg berat bagi yg nyontek dan ngasih contekan. Hukumannya mulai dr pengurangan nilai, nilai ujian 0, bahkan ada lo yg kalo ketahuan ujian nyontek atau ngasih contekan otomatis ngga lulus mata kuliah tersebut. Jd memang sangat tegas peraturan saat ujian kampus. Apalagi kesadaran mahasiswa yg mungkin lebih besar bahwa mencontek sama sekali tidak bagus untuk perkembangan dirinya. 

6. Gelagat Pengawas

Saat ujian, biasanya ada 2-3 pengawas yg terdiri atas dosen dan staf. Kebanyakan, para pengawas sudah dibriefing agar tidak jalan-jalan saat ujian berlangsung ataupun ngobrol, karena bisa mengganggu konsentrasi mahasiswa. 
Ohiya,biasanya di awal dosen sudah memberi tahu konsekuensi jika mahasiswa ketauan melakukan praktik percontekan. Karena itulah, para staf lebih dimudahkan saat mengawasi ujian, tidak sprti saat di sekolah yg mungkin lbh bnyak praktik percontekan yg membuat pengawas ujian kerja ekstra mengawasi siswa.

7. Selesai, langsung kumpulkan.

Saat temen2 mhs udh slesai jawab soal, mereka diperbolehkan langsung mengumpulkan jawaban dan meninggalkan ruangan ujian. Berbeda dg ujian sekolah yg kebanyakan mengharuskan siswanya mengumpulkan jawaban setelah menunggu wktu ujian selesai.

8. Jangan telat mengumpulkan jawaban

Sebagian dosen sangat tegas dg tidak menerima jawaban mahasiswa jika dosen telah meninggalkan ruangan. Tidak ada toleransi. Jadi, ketika waktu habis meskipun kalian sedikit lagi selesai, jangan diteruskan, langsung kumpulkan, dr pd jawabn kalian ngga diterima dan nilai 0 kan? 😊

9. Pastikan ruangan dan waktu ujian sesuai jadwal.

Banyak sekali mahasiswa yg lalai dalam kasus ini sehingga harus merelakan mata kuliah mereka πŸ˜… 
Kebanyakan lupa jadwal, jd kalian ingat dan catat kapan wktu ujian, di ruang apa, biar ngga ketiduran  waktunya ujian πŸ˜…. Memang, ada sebagian dosen yang mentolerir, tapi kebanyakan sih engga ya karena salah kita sendiri. 

10. Telat masuk ruangan

Beberapa dosen tidak masalah ketika ada mahasiswa yang telat  datang  saat ujian. Konsekuensinya, ya mahasiswa mengerjakan ujian dg sisa waktu yg ada. Ada juga dosen yang memberlakukan peraturan bahwa mahasiswa yg telat tidak boleh masuk. Itu artinya mhs tersebut tdk bisa ujian. Itu juga artinya nilainya 0. Jadi, pastikan kalian tau model dosen kalian sprti apa, caranya? Tanya dong ke kakak tingkat (kating) 😊

Udah, gitu aja ya,
Semoga ada nilai yang menetap di hatimu, dan berguna di hidupmu 😊

Sampai jumpa di coretanham berikutnya.. 😊

#CoretanHam
#Let'sInspire

Wednesday, June 3, 2020

Spot yang pas buat naik ojek online di stasiun gubeng Surabaya

Kalau temen-temen baru sampai di Stasiun Gubeng, kalian ngga bisa naik ojol di sembarang tempat, karena ada posisi yang telah disepakati ojol dengan ojek konvensional di sana. Di mana tempat kalian bisa nunggu ojol?

1. Kalau turun di Stasiun Gubeng Baru (Stasiun gede, bangunan modern)



    Stasiun Gubeng Baru (tripadvisor.co.id)



Sesaat setelah turun, kalian ikuti petunjuk arah pintu ke luar, ketika keluar peron ada 2 pilihan yang bisa kalian ambil.

Pertama. Keluar peron, kalian belok kiri lurus aja sampai ketemu pintu keluar parkir motor stasiun, Setelah keluar, kalian akan melihat fly over. Temen-temen bisa nunggu bapak ojol di bawah fly over. Jadi kalo ditanya posisi di mana? jawab aja, di bawah jembatan depan parkir motor :)

Atau pilihan kedua.

Ketika keluar peron, kalian jalan ke arah kanan sampai ke gerbang pintu masuk stasiun, trus jalan ke arah kanan sampai ketemu masjid. Ya, kalian bisa nunggu bapak ojol di depan masjid. Kalau tanya posisi dimana, jwb aja di depan masjid :)


2. Kalau turun di stasiun gubeng lama (Stasiun agak kecil dg arsitek bangunan kuno/klasik)

    Jadwal & Tiket Kereta Api Surabaya - Malang | Traveloka
    Stasiun Gubeng Lama (Traveloka.com)

Nah stasiun ini tidak terlalu besar. Jadi, ketika kalian keluar stasiun langsung belok kiri, jalan aja terus ngikuti trotoar sampai ketemu hotel sahid. Biasanya di situ para ojol naikin penumpang. Jadi klo ditanya posisi di mana? Jawab aja, di depan hotel sahid :)

Ye, selamat mencoba :)

#SuroboyoNyel
#CoretanHam
#Let'sInspire

#EnglishHack- 3 Perbedaan Penggunaan to+Infinitive

Infinitive = Kata dasar dari kata kerja
to + infinitive = to + kata dasar----> misal: to sit

Ini dia, 3 tempat kita bisa menggunakan to+infinitive:

1. Setelah Adjective (Kata sifat)

Misal :

It's easy to learn English with you (Mudah ya belajar bahasa inggris bareng kamu)

Kata sifat/adjective dalam kalimat tersebut adalah easy (mudah)
Sedangkan to+infinitive dalam kalimat tersebut adalah to+learn


2. Ketika ingin menjelaskan alasan atau tujuan kita melakukan sesuatu

Misal:

I went to the shop to buy some milk (Saya pergi ke toko untuk membeli beberapa susu)

to+infinitive di sini adalah to buy    yang menjelaskan alasan kenapa saya pergi ke toko.


3.  Setelah Quantifiers

Quantifiers adalah kumpulan kata yang digunakan saat menyatakan jumlah.
Contoh:
Few, little (Sedikit)
A lot of, many (Banyak)

Kuncinya adalah: 

         Quantifiers + Noun + to infinitive

I have too many emails to send  (Saya memiliki banyak sekali email untuk dikirim)

There is not enough time to get to the station ( Tak ada waktu banyak menuju ke stasiun)


Gitu aja, Gampang kan? 
Thank you all, 
Let's get another english hack :)

#5minutesenglishhack
#CoretanHam
#Let'sInpire

Sumber:
www.bbclearningenglish.com
wordsmile.com
ef.co.id




Tuesday, June 2, 2020

Mengapa Kuliah itu Penting . . .

Ada yang bilang, kuliah itu ngga penting. Ah, masak sih...

Let's talk about this!

Disclaimer: Apa yang saya tulis adalah opini saya berdasarkan apa yang saya alami selama kuliah sarjana.

Teman-teman, saat kita berbicara tentang kuliah, kita tidak hanya berbicara tentang belajar di kelas. Tetapi, kita belajar hidup.

Saya bisa bilang, bahwa ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama kuliah 4 tahun ekstra 1 tahun (ehehe) lebih banyak dan berharga dari pada saat belajar di sekolah selama 12 tahun. Kok bisa? Mari simak baik-baik.

1. Kuliah tempat belajar Mandiri

Saat sekolah, keterlibatan guru dalam proses pembelajaran siswa masih sangat besar. Mulai dari menyediakan buku yang akan kita pakai di kelas, lalu menjelaskan materi di hampir 100% jam pelajaran, memberi penjelasan yang begitu rinci bahkan ada sebagian guru yang ingin memastikan bahwa semua siswanya betul-betul memahami materi yang dijelaskan, peduli dengan kehadiran/ketidakhadiran siswa, menjelaskan materi minggu lalu meski sudah lewat topiknya, memberi toleransi kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas karena sebab tertentu, misal sakit atau organisasi, dsb, dan masih banyak hal lain yang melibatkan guru dalam pelaksanaannya. Jadi, guru masih sangat "memanjakan" siswanya.

Mari kita lihat fenomena di bangku perkuliahan. Sekali lagi apa yang akan saya sampaikan adalah berdasarkan pengalaman saya,tidak bisa digeneralisasi, bisa jadi di luar sana ada yang sama atau berbeda.

Saat pertemuan pertama di awal semester, dosen akan memberi mahasiswa kontrak perkuliahan. Apa itu? Yakni semacam "Kesepakatan" antara dosen dengan mahasiswa tentang pembelajaran yang akan dijalani selama satu semester. Jadi, mahasiswa diberi tau materi-materi yang akan diajarkan pada minggu pertama smpai minggu terakhir, termasuk kapan kuis (ulangan), uts, uas, penugasan dsb. Selain itu, dosen juga menawarkan persentase nilai/bobot dari masing-masing tugas, misal tugas 10%, uts 30%, uas 40%, dsb. Di sinilah mahasiswa memiliki kesempatan untuk menawar bobot tersebut, misalkan bobot uts 30%, apabila mahasiswa keberatan maka nilai persentasenya bisa diubah sesuai kesepakatan seluruh mahasiswa dan dosen.

Ada pelajaran yang bisa diambil di sini, bahwa mahasiswa diberi hak untuk terlibat dlm membuat keputusan yang menyangkut dirinya.

Selain kontrak perkuliahan, dosen biasanya akan memberi tau mahasiswa buku apa yang digunakan untuk perkuliahan tersebut. Ya, betul, mahasiswa diberi tau judul buku dan penulisnya, bukan disediakan bukunya layaknya siswa di sekolah. Selanjutnya, mahasiswa diberi kebebasan untuk membeli buku atau tidak, atau mencari referensi lain. Intinya, entah bagaimanapun caranya asal dpt membantu memahami materi.

Selain buku, cara yang sering dipakai dosen dalam menyampaikan perkuliahan adalah presentasi menggunakan powerpoint (ppt), video, atau media digital lainnya, tapi mayoritas menggunakan ppt. Dalam sekali pertemuan, biasanya membahas 1 bab. Pertemuan berikutnya, sudah ganti bab. Ganti bab ya, bukan sub bab.  Dalam waktu 100-200 menit atau bs jg lebih tergantung jumlah sks, dosen menjelaskan materi  ppt yg dirangkum dlm poin-poin penting. Ketika waktu habis, maka selesai pula sesi penjelasan untuk materi tersebut. Jadi, waktu di kelas adalah waktu emas karena dosen tidak akan mengulang di luar kelas ataupun di pertemuan selanjutnya krn sudah berbeda topik. Bagaimana kalau kita belum paham? Di sini mahasiswa dituntut mandiri untuk membaca referensi sebanyak-banyaknya, tidak hanya mengandalkan penjelasan dosen saat di kelas. Karena mayoritas dosen tidak mau menjelaskan materi ketika di luar kelas, meski sebagian kecil masih ada yg mau. Sebab, tugas dosen tidak hanya mengajar. Jika kita tidak memperhatikan dosen saat di kelas dan tidak pula membaca dari referensi lain saat di luar kelas, maka tingkat pemahaman mahasiswa terhadap suatu topik bs jd akan sangat kurang.

Kenapa seperti ini?

Saat kita menjadi mahasiswa, kita bukan lagi "anak" sekolah, karena mahasiswa dianggap orang dewasa yang (seharusnya) sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Dengan kata lain, kalau kita ingin menguasai materi, ya pikirkan cara yg terbaik untuk diri kita.

Bagaimana dg Tugas ?

Dosen saat memberi tugas biasanya juga memberi waktu pengumpulan/deadline. Banyak dosen yang menerapkan peraturan ketat dalam pengumpulan tugas. Misal nilai tugas kosong jika telat mengumpulkan, atau pengurangan nilai, dsb. Ada dosen yang tidak peduli bagaimana mahasiswa mengerjakan tugasnya, misal dg belajar kelompok, atau mencontek itu semua urusan mahasiswa asal tugas dikumpulkan tepat waktu. Sekali lagi, karena mahasiswa dianggap orang yang mengerti apa yang mesti dilakukan. Sebaliknya, ada juga dosen yg sangat ketat, bila melihat ada jawaban yang sama, semua yg terlibat akan diberi nilai 0. 

Apabila kita tidak mengumpulkan tugas, maka otomatis nilai tugas 0. Kalau sakit, bagaimana? Sebagian dosen tidak peduli apa yg terjadi pada mahasiswa asal tugasnya terkumpul sesuai deadline. Tapi, sebagian lain, ada yg menanyakan kenapa tugas si A tidak ada. Jadi kalau ada mahasiswa yg sakit pas ada tugas, mhs tersebut harus konfirmasi dulu ke dosen trkait kondisinya, bisa jd dg begitu dosen akan memiliki kebijakan lain.
Lagi-lagi, mahasiswa yang harus mandiri dan inisiatif . Tidak bisa menggantungkan ke teman, saudara, atau keluarga, apalagi ke dosen ehehe. Ya, karena mahasiswa yang butuh. Sesimpel itu. . .

Contoh di atas hanyalah sebagian dari kemandirian saat kuliah/belajar. Itu pun, tidak berhenti di situ. Karena jika mahasiswa kuliah di perantauan, maka mereka juga dituntut mandiri dalam menjalankan hidup. Mulai urusan perut, biaya kuliah, print, event, biaya kos, mencuci baju, piring, bersih-bersih dsb. 

Termasuk, mandiri saat menyelesaikan masalah. Ini pelajaran baru buat saya yg begitu menempel. Saya hidup di perantauan. Banyak hal tak terduga yg biasanya mudah diselesaikan saat masa sekolah menjadi tak mudah saat kuliah. Misal perihal hubungan pertemanan, dengan teman kuliah, dengan teman kos, dengan ibu kos, dengan tetangga ataupun dosen. Coba deh tanya ke kenalan kalian, pasti ada aja masalah ketidakcocokan ini. Apa kemudian ketika merasa tidak cocok dg 1 atau 2 orang kita langsung bs pergi begitu saja? Iya, kalau org itu tdk berperan penting dlm keberlangsungan kuliah kita. Kalau berperan penting, bagaimana?  Sekali lagi, kita dituntut untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. Kita tdk bs melibatkan orang tua, saudara, atau keluarga dlm hal ini. Kita yg harus menyelesaikan. Ndak bisa tiba-tiba  lari dr masalah, krn kebanyakan ini menyangkut keberlangsungan kuliah dan hidup kita di perantauan. Keadaan yg memaksa spt ini membuat kita mnjdi mandiri dan tidak lembek ketika ada kesulitan.

Jadi, kuliah merupakan masa-masa saat mental kemandirian kita dilatih. Agar diri kita mampu diandalkan. Dan agar kita tidak mudah bergantung kepada orang lain. Be Independent. Temen-temen ada opini juga kah tntg kemandirian ? :)

Ruang Praktikum biologi dasar, laboratorium biologi FST Unair
Di Ruang Praktikum Biologi, FST Unair



2. Kuliah tempat belajar Bertanggung Jawab


Banyak peristiwa saat kuliah yang menuntut kemampuan tanggung jawab kita. Secara akademik, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk belajar dengan baik. Bukannya gampang, belajar aja? Tidak semudah itu, fergusoo.
 Belajarnya gampang, ngilangin malesnya, nyisihin waktunya, memulai buka bukunya, pegang laptopnya, ngurangin egonya, nahan kantuknya, itu lo yang sulit. Terlebih banyak kegiatan yang bisa diikuti mahasiswa di luar kelas, misalnya seminar, workshop, ekskul, lomba atau bahkan  maen game, ngemall, tiduran, liat drakor, dan godaan-godaaan lain yang membuat fokus dlm belajar saat kuliah tidak semudah itu. Apalagi tdk ada yg mengingatkan / moodbooster krn jauh dr org tua dan saudara. Kalau kita tidak bisa membagi waktu dengan baik, tidak pula ingat akan tanggungjawab utama seorang pelajar, ya belajar tinggal jadi angan :'

Nah, kuliah menjadi saat kita belajar untuk bertanggungjawab kpd orang tua kita yg telah membiayai. Kalau beasiswa, gimana? Justru kalau kita mendapat beasiswa tanggungjawab kita jauh lebih besar, krn uang yg kita pakai bukan hanya uang satu bapak dan satu ibuk, tapi uang hasil keringat dari ribuan keluarga yang telah menyisihkan hasil kerjanya berikut harapan yg menyertainya.
Itu tadi masih secara akademik.  Lalu, tanggung jawab lainnya apa?

Jika mahasiswa mengikuti organisasi, biasanya ia akan mendapatkan tanggungjawab sesuai posisi yg ditempati, atau bertanggung jawab merealisasikan program kerja yang sedang dikerjakan. Ini sangat tidak mudah, sebab biasanya dlm kegiatan, banyak orang yang terlibat berikut karakter dan pembawaan masing-masing. Jadi, bagaimana tiap individu bisa saling bekerja sama  dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Bahkan jika posisi kita ketua atau koordinator, bisa jadi kita juga bertanggungjawab atas pekerjaan orang lain. Tangungjawab adalah ilmu praktis. Semakin dilatih semakin kita terbiasa dan mampu bertanggungjawab dengan semakin baik. Sebaliknya, tanggungjawab tidak akan muncul dengan sendirinya jika kita hanya mempelajari teorinya saja. Nah organisasi, kepanitiaan, kegiatan ekstra yg ada di dunia perkuliahan menjadi wadah dan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengetes rasa tanggungjawabnya

Aksi Lingkungan 2016 HMTL Unair
Teman-Teman Enviro 8 yang juga panitia Aksi Lingkungan 2016 HMTL Unair


Banyak kesempatan saat kuliah yang bisa melatih sikap tanggungjawab kita, misal mengikuti kepanitiaan, menjadi asisten dosen, menjadi pengurus organisasi, ikut terlibat dlm proyek dosen, dsb. Atau jika kita hidup bersama kos atau asrama, banyak kesempatan untuk belajar bertanggungjawab. Sekali lagi, ini tergantung kemauan kita. Kita bisa memilih untuk belajar bertanggungjawab dengan mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi tersebut. Atau sebaliknya, santai-santai tiduran di kos sambil liat drakor :) Yang menanam tentu yang akan memanen, kan ? :)

Waktu kuliah 4-6 tahun menjadi masa yg cukup panjang dlm proses pembelajaran tanggungjawab dg tingkatan yg terus naik. Saat mahasiswa baru (maba) misalnya, mungkin tanggungjawab kita masih sebagai staf, bertanggungjawab menjalankan tugas yg diberi atasan. Tahun kedua kuliah, bisa jd posisi kita ganti koordinator yg memiliki staf. Tentu tanggungjawab kita meningkat. Kita bertanggung jawab atas kinerja staf di divisi kita. Tahun berikutnya, bs jadi kita menjadi ketua organisasi yg membawahi banyak koordinator dan staf serta bertanggungjawab atas suksesnya banyak program kerja. Ini yg saya sebut medan perang. Semakin bnyak perang yg kita lakukan, semakin hebat trackrecord kita, semakin lanyah sikap tanggungjawab yg kita miliki.

Environmental Festival 2016 HMTL Unair
Saat menjadi Sie Sponsorship di Environment Festival 2016 HMTL Unair


Yakinlah, seiring bertambahnya usia, bertambahnya semester, bertambah banyak dan kompleks pula masalah kita. Tentu kita orang yang paling bertanggung jawab menyelesaikan masalah di hidup kita.


3. Kuliah tempat Meningkatkan Kemampuan Berfikir dan Membuat Keputusan

Perbedaan mencolok yang saya rasakan saat kuliah dan sekolah adalah pengembangan kerangka pikir saat proses transfer materi. Saat sekolah, saya merasa lebih banyak diberi tau. Tetapi saat kuliah, saya merasa lebih banyak mencari tau. Mungkin karena penjelasan dosen yg mampu membuat mahasiswa menjadi berfikir dan kemudian bertanya, kok bisa seperti itu. Mungkin jg karena banyaknya materi dan terbatasnya waktu mnjdikan bnyak hal yg tdk tersampaikan saat di kelas dan kita harus mencari tau sendiri di luar kelas. Mungkin juga karena, porsi ceramah dosen yg lebih singkat, dan memperbanyak porsi diskusi.

Ini menarik menurut saya. Diskusi mengajarkan banyak hal. Ada pemateri, pemantik, dan peserta. Dalam diskusi tentu pembicaraan tidak hanya satu arah. Ada feedback yg diberikan. Ada sanggahan, ada yang ingin melengkapi. 


Saat banyak kepala dg isi yg berbeda-beda dipertemukan dalam sebuah forum, tentu akan melatih kemampuan berpikir kita. Barangkali si A memiliki pemikiran yg tdk dimiliki si B yg kemudian memperkaya perspektif si B. Atau barangkali si C yg awalnya tak punya ide mendengar pendapat si D menjadi punya ide.  Atau si X yg pendapatnya sangat kontradiktif dg pendapat si Y. Pernah ngga sih kita berfikir, kok bs ya orang setuju dg suatu hal yang kita tidak menyetujuinya? Logika apa yg sedang dipakai? Kok bisa org berfikir dr sudut pandang A? Kok saya tidak kepikiran. Semakin banyak peserta barangkali menjadikan semakin kaya perspektif kita, bertambah pula kemampuan berpikir kita. 

Rapat-rapat dalam suatu kepanitian, ngobrol dengan teman, diskusi tentang suatu hal, adu argumen dlm kelas, itulah hal-hal yg dapat menajamkan kemampuan berpikir mahasiswa, bukankah otak layaknya pisau yang  jika semakin diasah akan semakin tajam? Bukankah pisau yg tak pernah dipakai akan menjadi tumpul? Kiranya demikian jika kita jarang mengetahui perspektif orang lain, otak kita akan tumpul dan terkungkung dalam perspektif kita sendiri.

Kemampuan berpikir inilah yg nantinya menjadi bekal saat kita dihadapkan dalam suatu masalah dan dituntut untuk membuat keputusan. Saat mengasah kemampuan berpikir, kita berusaha keras memikirkan suatu hal dr sudut pandang A, B, C, sebanyak sudut pandang yg bisa kita lihat.
Akhirnya kita terbiasa untuk melihat satu hal dari banyak perspektif. Ketika harus membuat keputusan, org yg terasah kemampuan berpikirnya, tentu tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Banyak perspektif yg ia gunakan. Bagaimana jika memilih opsi A, apa dampaknya, apa manfaatnya. Apa mudharatnya. Bagaimana pula jika opsi b, c atau d dst yg diambil. Tentu keputusan yg diambil tergesa-gesa dg keputusan yg dipikir matang baik buruknya, dan dg mempertimbangkan bnyak hal akan memiliki dampak yg berbeda.

Abdi Desa HMTL Unair 2016 di Desa Pucukan, Sidoarjo
Abdi Desa HMTL Unair 2016 di Desa Pucukan, Sidoarjo


Kuliah juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terbiasa mengambil keputusan. Mulai keputusan untuk belajar saja atau sambil berorganisasi. Ikut satu organisasi atau ikut juga kepanitiaan. Kuliah aja atau kuliah sambil kerja. Ikut kegiatan ekstra apa ngga. Tinggal di kos atau di asrama, sampai dg keharusan mngambil keputusan saat menjalankan program kerja yg melibatkan langsung masyarakat. Terbiasa dalam membuat keputusan menjadikan mahasiswa terlatih untuk memutuskan hal yg berat dan bisa belajar dari baik/buruknyaa keputusan-keputusan yg pernah dibuat sebelumnya.

4. Kuliah tempat belajar Optimis Mencoba Hal Baru & Berani Melawan Ketakutan dan Keraguan

Saat kuliah, banyak hal-hal baru di hidup saya yang awalnya saya tidak pernah terfikirikan untuk melakukannya  dan juga tidak menyangka bisa merealisasikannya, Ternyata, bisa lho ...

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Unair 2016
Bersama teman-teman dan kakak tingkat pengurus HMTL Unair 2016


Tahun pertama saya kuliah (maba), saya mengikuti organisasi dengan menjadi staf Pengabdian Masyarakat di Himpunan mahasiswa jurusan. Untuk pertama kalinya, saya kembali mengikuti sebuah organisasi setelah terakhir kali saya aktif di OSIS saat SMP. Untuk pertama kalinya juga, saya mendapat amanah untuk menjadi penanggung jawab salah satu proker di himpunan tersebut. Saya sangat ragu mulanya. Saya juga sangat takut, jujur saja lama tidak mengikuti organisasi membuat saya kaku saat dihadapkan sebuah tantangan baru. Saya sudah berniat mundur. Tetapi, kepala divisi saya (yang pernah saya ceritakan di artikel Menggapai Impian ke Jepang) begitu yakin dan meyakinkan saya kalau saya bisa. Saya sebut merk ya, namanya mbak mia ehehe (Thank u mbak ❤ ). Mbak mia telaten banget mengarahkan saya (ngasih briefing) step by step apa yang harus saya lakukan sebagai penanggungjawab. Saya melihat,mbak mia tidak sedang menganggap saya maba karena saya tidak melihat keraguan sedikitpun ketika mbak mia memberi jobdesk pertama saya (ini sudut pandang saya, ya).  Beberapa kali kita ngobrol, akhirnya saya beranikan dan yakinkan diri saya untuk, oke i'll do it!

Dalam perjalanannya tidak mudah, mulai mengajak teman-teman (notabenenya adalah teman-teman yg baru saya kenal di perkuliahan) untuk bergabung menjadi panitia. Saya belajar bagaimana memimpin sebuah rapat. Saya pernah hampir menyerah, ketika saya sulit mempertemukan berbagai pendapat dari banyak teman saat rapat. Saya pun kesulitan untuk membuat keputusan. Ada kakak tingkat (kating) yang menyadari kebingungan saya ini. Ia ngajak ngobrol saya face to face untuk memberi briefing, tips, bagaimana menghadapi situasi seperti itu.

This! Ketika kita berani mengambil keputusan, artinya kita harus berani menghadapi kesulitan dan resiko atas keputusan yang kita ambil

Dengan adanya kesulitan tersebut, kita tidak tau tiba-tiba ada saja jalan keluar/pertolongan yg datangnya bs dr siapapun yang membuat kita bisa menyelesaikan kesulitan yang ada. Akhirnya kita jadi belajar hal baru. Kalau kita tidak berani mengambil keputusan untuk mencoba hal baru, tentu kita tidak pernah bertemu dg kesulitan tersebut. Artinya tidak bertambah pengalaman dan pelajaran baru dalam hidup.

Masih dalam perjalanannya, saya juga banyak dibantu teman-teman panitia (Terimakasih temen-temen ev8) dalam menyelesaikan masalah yg ada. Bantuan datang melalui saran mereka, tenaga, relasi, pengalaman mereka yang akhirnya kita berhasil melaksanakan proker tersebut. Teman-teman saya tidak sungkan untuk mengungkapkan kekurangan saya, misal saya kurang tegas, kurang cakcek (gesit), kurang koordinasi, kurang disiplin, dan kekurangan-kekurangan lainnya. Hal itu ternyata menjadi bekal yang amat sangat berharga bagi saya dalam proses belajar berorganisasi di kemudian hari (Thank you all ❤ )

Jadi, memang tidak semuanya bisa berjalan dengan baik, mulus, sempurna, terlebih jika itu pengalaman pertama kita. Tapi, setidaknya, hal itu bisa menjadi bekal untuk pengalaman kedua, ketiga, keempat, dst. Karena jika kita tidak pernah mencoba, semua hal akan terus menjadi pengalaman pertama, tidak ada pengalamn baru, dan kita terus terkungkung dalam ketakutan yang kita bikin sendiri.
Ayo gaes, jangan takut mencoba hal baru. Kalahkan ketakutan yang jangan-jangan itu hanya ruwwwett di pikiranmu sendiri. Karena memang itu yang saya rasakan sebelum proker dimulai. Takut gagal, takut mengecewakan banyak orang, takut berhenti di tengah jalan (mandek), buktinya ndak seserem itu tho, malah proker berjalan dg baik (hamdalah) dan saya dapat ilmu, pengalaman, dan relasi baru.

Airlangga Bangun Desa BEM UNAIR di Jolosutro, Blitar, Jawa Timur
Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar


Pengalaman pertama tersebut, menjadi bekal yg begitu berharga bagi saya saat saya kembali diberi amanah sebagai penanggungjawab di proker yg skalanya lebih besar, di mana panitianya datang dari kalangan junior sampai senior dari fakultas yang berbeda-beda. Anggaran yang tinggi juga mengindikasikan bahwa ada tanggungjawab moral yang mesti diemban, terlebih proker ini melibatkan masyarakat langsung. Meski masih nervous, tapi setidaknya saya tak lagi kikuk saat harus memipin rapat, mengkoordinasikan teman-teman, berdiskusi, bagaimana cara berkomunikasi dg lawan bicara dengan karakter yang berbeda-beda. Pengalaman pertama betul-betul mempermudah jalannya pengalaman selanjutnya., meski tak selalu hasilnya sempurna dan menyenangkan banyak orang. Setidaknya, ketika kita telah berada di lapangan, kita menyadari bahwa tidak mudah menjalin kerja sama dengan orang lain, jadi butuh banyak latihan. Sekali lagi, bukan berarti setelah mendapat pengalaman saya menjadi sok bisa, justru semakin kita bertambah pengalaman, semakin kita menyadari kekurangan dan kelemahan diri kita. Betul itu,, Sungguhh.... Nah kesadaran atas kekurangan inilah yang bisa kita jadikan bahan perbaikan saat dapat challenge baru (lagi). Ya, begitulah hidup, Selalu ada challenge atau masalah baru dalam hidup agar kita terus belajar.

Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar
Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar


5. Kuliah Memahamkan Arti Mental yang Sebenarnya

Teman-teman, sebelum kuliah saya betul-betul tidak paham ketika ada orang lain bilang ga punya mental atau mentalnya tempe, atau perkembangan mentalnya kurang bagus, atau apapun itu yang menyebut kata mental. Sebab, saya sendiri belum memahami mental itu apa..

Jadi, mental itu apa . . . ?


Leadership Training HMTL Unair 2016 di ARMATIM Surabaya
Leadership Training HMTL Unair 2016 di ARMATIM Surabaya 


Saat pertama kali saya diberi tugas menjadi penanggung jawab, saya takut sekali ngga bisa. Tapi, saya memilih melawan ketakutan saya. Saat saya ikut Sakura Program Exchange ke Jepang (baca Menggapai Impian ke Jepang, ehehe promosi dikit), saya tidak pernah lolos seleksi. Tapi, saya ngotot yakin, meski saya tau yg kepilih hanya satu orang. Sekali lagi, saya memilih yakin dan tetap berikhtiar. Saat saya memutuskan ikut Program AYCE ke Singapore (ini juga ada artikelnya) padahal saya sadar ngga punya uang dan belum tau caranya, saya tidak memutuskan mundur. Sebaliknya, saya memilih untuk tancap gas. Saat teman-teman saya menghindari dan berdoa agar tidak mendapat dosen x sebagai pembimbing skripsi, saya menyalakan nyali dengan mengajukan dosen x sebagai pembimbing skripsi saya. Saat saya terseok-seok dalam perjalanan skripsi yang ngga kelar-kelar dan ada pilihan untuk ganti dosen pembimbing (jika mau dan jika disetujui), saya memilih melanjutkan apa yang saya mulai. Semua yang saya sebutkan itu sangat tidak mudah dalam proses pengambilan keputusan dan perjalanannya. Satu yang saya pikirkan pada saat-saat tersebut. Bahwa apabila saya tidak mencoba, maka saya tidak akan pernah tau hasilnya. Itu prinsip yang begitu menguatkan saya.

Pondok Pesantren Tahfidzil Qur'an (PPTQ) Ikhwan Al-Haromain Surabaya
Bersama keluarga PPTQ Ikhwan Al-Haromain


Saya perhatikan pola-pola di setiap peristiwa dalam hidup saya. Saya ingat dan pelajari nilai apa yang saya dapat setelah suatu peristiwa saya alami. Kemudian perlahan saya mulai sadar, bahwa saya telah belajar melawan ketakutan. Saya mengambil jalan sulit bukan maksud menyengsarakan diri sendiri, melainkan agar kerikil-kerikil yang akan saya temui tak mampu menjatuhkan diri saya. Saya belajar untuk bertahan dalam kesulitan dan ketidakpstian akan berhasil atau tidaknya usaha kita. Saya belajar meyakini pilihan yang saya ambil, menjalaninya dengan sepenuh hati sebagai rasa tanggungjawab atas pilihan yg diambil dan tidak menyalahkan diri apabila gagal. Saya belajar menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan sebagai wujud kepercayaan saya akan kebesaranNya. Saya belajar untuk jangan berkata "Tidak bisa" sebelum mencobanya. Saya belajar melapangkan dada ketika banyak peristiwa yang membuat dada sesak. Saya belajar kuat dari setiap ujian yang Tuhan kasih dengan cara tersenyum dan menahan umpatan saat menjalaninya.Saya belajar tidak mudah menyerah meski jiwa dan raga telah lelah. Saya belajar untuk tidak mudah kaget ketika ada batu sandungan di setiap perjalanan. Saya belajar dari teman, dosen, senior, junior, melalui kegiatan dan peristiwa yang terjadi selama hampir 5 tahun saya kuliah di perantauan. Harapan saya, semua itu dapat mendewasakan pikiran dan tingkah laku saya. Pada akhirnya semua itu membawa saya memahami bahwa setiap peristiwa yang datang di hidup kita sebagai media pembelajaran. Ini yang kemudian saya pahami sebagai Mentalitas. Sebuah seni dalam berpikir, bersikap, belajar dan merespon hal-hal yang datang di kehidupan kita.

Pantai Jolosutro Bitar
Bersama teman-teman panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Pantai Jolosutro, Blitar



6. Kuliah tempat Belajar Berproses, Mengenali Jati Diri, dan Menempa diri sebagai Bagian dari Proses Menuju Kedewasaan.


Banyak kesempatan saat kuliah yang menjadi wadah mahasiswa untuk berproses. Kampus barangkali layaknya mall yang komplit dengan toko-toko yang siap menyediakan produk-produk kehidupan. Mulai pembentukan pola pikir, kesabaran dalam berproses, membangun komunikasi dengan orang lain, belajar bekerjasama dengan orang-orang berbeda karakter, memperbanyak relasi, menimba ilmu, bekerja di bawah tekanan, bertanggungjawab, dan masih banyak produk (nilai) kehidupan lainnya.  Semua nilai-nilai itu kita dapatkan dari belajar dan diskusi di kelas, kerja keras saat menjadi panitia di suatu acara, saat bekerja dengan dosen melalui proyek-proyeknya dengan segala tekanan yang ada. Ada banyaakk sekali aktivitas yang bebas diikuti mahasiswa. Tapi, tentu tidak semuanya akan dipilih. Nah, saat proses memilih, mencoba hal baru, kemudian menjalani apa yg telah dipilih, saat itulah mahasiswa bisa menilai apakah mereka menjalani prosesnya dengan hati atau tidak.

Pun dengan saya. Saya sangat menikmati berorganisasi. Saya juga senang dan menikmati proses ngobrol dan diskusi. Saya juga sungguh menikmati ketika bisa terjun langsung ke lapangan melibatkan diri dalam kegiatan bersama masyarakat. Saat banyak teman saya yang heran ketika saya mengambil keputusan yang mereka hindari, saya tersenyum dan menjawab keheranan mereka dengan mengatakan bahwa saya menikmati proses dari keputusan yang saya ambil. Mungkin mereka tidak memahami keputusan saya, tapi saya sangat memahami apa yang saya putuskan. Saya semakin mengenali kemauan saya, dan mulai menemukan ruang-ruang di mana saya bisa berkarya dari hati serta menikmatinya. Semua saya dapatkan dari kesempatan kuliah di perantauan.


Panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar
Bersama teman-teman panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017


Kesempatan berkuliah adalah kesempatan emas saya untuk belajar hidup. Yang, pada akhirnya saya mulai rasakan hasilnya ketika kini dihadapkan pada beragam peristiwa. Saya mulai berpikir untuk terus berproses menjadi dewasa. Bagi saya, dewasa tidak ada batasnya. Jadi, berproses dalam menuju kedewasaan adalah keniscayaan yang mesti dijalankan selama raga masih bernyawa. 


Panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar
Bersama teman-teman panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017


hmmm. . . .

Coretan yang begitu melelahkan,
Tapi begitu menyenangkan bisa berbagi apa yang ada di pikiran,

Terimakasih teman-teman yang telah terlibat dalam dunia perkuliahan saya,
Terimakasih  karena kalian telah terlibat dalam proses belajar pendewasaan diri saya,

Terimakasih teman-teman yang sudah membaca,

Semoga ada nilai baik yang menetap di hatimu dan berguna di hidupmu ❤

Sampai jumpa di coretanham berikutnya yaaa....

#CoretanHam
#Let'sInspire









Sunday, May 31, 2020

Pertama kali naik pesawat dan menginjakkan kaki di luar negeri

Temen-temen, 20 tahun saya hidup, belum pernah sekalipun saya merasakan ada di udara. Untuk pertama kalinya, pada Tahun 2017 saya tau bahwa awan tidak menempel di langit πŸ˜…
Jadi, gimana ceritanya?

Ayo, gelar tikar dulu, siapin pisang goreng ama kopi. Siap? 

Malam itu, saya mendapat email dari akun YOUCAN. ia semacam organisasi atau entah apa ya yg kerjaannya bikin acara ke luar negeri gitu. Di email itu ada poster yg isinya promosi program pertukaran budaya ke Singapura. Nama programnya Asean Youth Cultural Exposure (AYCE). Sesaat setelah membaca, imajinasi saya kembali liar. Membayangkan gimana rasanya ada di luar negeri, kalau ke luar negeri berarti naik pesawat dong, asik yaa. Saya juga membayangkan betapa indahnya singapura, krn di poster ada patung singa yg belakangan saya tau namanya merlion. Saat itu juga saya memutuskan saya mau ikut. Saat itu juga saya ngga tau uangnya dpt dari mana. Wkwkwk. Namanya juga pengen, boleh dong ehehehe

Entah kenapa, saya begitu yakin mau ikut programnya, meski ngga tau bayarnya gimana. Apa yg begitu membuat saya tertarik ke luar negeri adalah, pertama saya ingin merasakan gimana sih hidup bersama orang2 yg tidak sebahasa dg kita. Menurut saya itu hal yg sangat menarik, krn klo kita disini, ngomong inggrisnya masih ragu, masih merasa boleh salah, masih bs berbahasa indonesia, masih setengah-setengah, tapi kalo kita di luar negeri, mau ngga mau, bisa ngga bisa, ya kita harus 100% pakai english dong, krn lawan bicara kita ngga akan ngerti kalo kita pakai bhs indonesia. Bagi saya itu tantangan yg mempesona. 

Selain perbedaan bahasa, perbedaan budaya juga menjadi alasan kuat saya ingin ke luar negeri. Budaya tak melulu tentang kesenian ya. Saya sangat tertarik dan ingin melihat langsung budaya antri mereka, budaya ontime, cara berkomunikasi dg org, cara memperlakukan org lain. Dan saya dengar sejak dulu bahwa Singapura terkenal buersih. Saya ingin buktikan seberapa bersih singapura πŸ˜…

Oke, setelah saya baca email, saya langsung kasih tau ke sahabat saya, ewol. Saya ajak dia, mau ngga klo kita ikutan acara ini bareng, saya membayangkan ke luar negeri bareng sahabat, lebih membahagiakan dr pd pergi sendiri, kan? Sahabat saya terlihat ragu. Dan benar. Ia merespon dg pertanyaan, uangnya dpt dr mana? Jengjengg... Hmmm... Saya jawab dg senyum 😊😊 nanti pasti Allah kasih jalan. Sahabat saya balas dg senyum kecut πŸ˜…πŸ˜…

Ternyata saya serius dg keinginan saya. Ini yg membawa saya juga serius memikirkan dapat dr mana uang buat bayar ya, mana ngajak anak orang lagi. Biaya per orgnya sekitar 4,5 juta. Itu belum tiket pesawat. Kalo ditotal, untuk bisa ikut beserta akomodasi transportasi, totalnya buat 2 org mencapai 12juta. What? 12 juta ke Singapura? Yaaa bahkan saya belum pernah tau wujud uang 12 juta sebanyak dan seperti apa. Apa saya menyerah???
No, tidak ada kata menyerah dalam hidup saya, asik πŸ˜…

Hmm.. Saya bolak balik logika saya. Saya manfaatkan betul otak saya. Gimana cari jalan keluarnya. Dan saya ingat, ada kakak tingkat (kating) di asrama yg pernah sharing ke saya tntg perjuangannya ke Malaysia, termasuk perjuangan mencari dana. 

This! Sering-sering lah ngobrol atau diskusi dg teman, senior, ataupun junior kita. Kita ngga akan pernah tau, dari percakapan itu ada yg bs bermanfaat di hidup kita/ hidup org lain, meski ngga sekarang, barangkali suatu saat nanti 😊

Saya datengi kating saya, saya tanyakan lagi secara detail bagaimana proses mencari dana, mulai permohonan dana di kampus, ke lembaga pemerintah atau swasta, tempat minjem uang dsb smpai akhirnya saya tutup dg minta proposal hehe sbg gambaran bagaimana proposal mencari dana itu. 

Apa ini disebut mengemis? No. Lalu?
Hampir setiap kampus memiliki anggaran bagi mahasiswanya untuk kegiatan akademis baik di dlm negeri ataupun luar negeri, pun dg lembaga pemerintah ataupun swasta yg juga punya anggaran pendidikan ataupun melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR). Nah dana-dana itu bisa tersalurkan salah satunya ketika ada pihak misalnya mahasiswa yg mengajukan permohonan dana, asal kepentingannya jelas, rincian anggaran bisa dipertanggungjawabkan, maka bisa dan sah-sah saja kita menggunakan dana ini. Begitu teman . . .

Lanjut yaa,

Oke kita berdua langsung gercep menyusun rencana dan strategi. Mulai merencanakan pengajuan proposal ke kampus (melalui rektorat dan fakultas), ke pemerintah (melalui pemkot surabaya dan pemprov jatim), ke swasta (melalui perusahaan, ataupun lembaga pengelola dana). 

Nah yang kadang bikin ciut semangat para mahasiswa adalah, kita dikasih deadline pembayaran DP yang singkat, pdhl keberangkatan masih lama. Ini juga yg jd permasalahan kita. Kita diharuskan bayar dp 2,5 jt/org artinya kita berdua harus setor 5 jt di awal. Hmm, mental saya mulai nyiut juga, pun dg sahabat saya. Dapat dr mana uang 5jt nya. Bahkan klo kita kumpulin uang jajan kita bulan ini dan bulan depan juga ngga akan cukup wkwkw. 

Kita tak gentar menghadapi kesulitan ini. Kita putuskan untuk pinjam uang dulu ke orang lain juga saudara kita. Di sini kita mesti pintar meyakinkan dan melobi krn sulit mncari org yg percaya mahasiswa bisa ngembaliin utang 5 jt wkwk. Kita yakinkan bahwa uang mereka akan kembali jika dana sudah cair (meski kami pun juga tdk bs memastikan saat itu). Nekat banget ya? Memanggg.... Hidup memang perlu nekat cuy wkwk

Oke, kita mulai serius mencetak proposal, menentukan tujuan dsb, dan kita sudah memiliki prediksi jumlah uang yg berpotensi kita dptkan dr bbrapa sumber. Dan kita yakin uang yg kita peroleh cukup buat nutup kebutuhan kita. 

Jadilah kita mengajukan permohonan dana ke rektorat, ke fakultas, ke pemkot surabaya, ke pemprov jatim, ke perusahaan swasta, ke lembaga pengelola dana dll. Alhamdulillah ada yg di awal memberi kepastian dana, yaitu rektorat dan fakultas😊

Btw, itu semua kita lakukan di sela-sela kesibukan kuliah dan organisasi. Susah ngga? Ya cukup susah, jd kita mesti menyisihkan waktu kita, krn ndak mudah ngurus birokrasi spt ini, makanya kita harus tanya ke yg berpengalaman, misal format proposal yg diminta spt apa, ttd siapa saja yg dibutuhkan, sop nya spti apa, birokrasi memang cukup rumit, ga bs asal-asalan, jd semangat ga boleh kendor. Bnyak yg menyerah atau malas ikut beginian krn ngga mau berurusan dg birokrasi. Tapi bagi yg telaten, insyaallah akan dapat buah manisnya 😊

Balik lagi ya, kita senang krn proposal kita dicc/disetujui, tapii masih ada masalah..
Apa tuh?

Ya, masalahnya tdk semua dana yg disetujui bisa cair di awal/ sebelum keberangkatan, sedangkan bbrp hari/minggu sebelum keberangkatan semua pembayaran harus dilunasi.

Saat deadline semakin dekat, uang kita belum cukup krn yg cair baru 1 juta. 1 juta? Ya, benar 1 juta. Krn sebagian yg diacc bisa cair setelah kita mengumpulkan laporan pertanggungjawaban (lpj) artinya setelah kegiatan selesai.  Dan sebagian lagi belum ada kabar. Ya allah, susahnya. Apa kita menyerah? Tidak ada pilihan menyerah pd saat itu, krn dp 5 jt udh dibayar, dan itu uang orang wkwkwk. Jadi pilihan hanya satu, maju terus.  

Kalian yakin akan dpt dana dan bisa bayar utang?
Yaaa, kita yakinnnn krn kita sudah berusaha dan kita minta bantuanNya. Jadi kami yakin, Dia akan bantu. Sekali lagi, krn kita yakin Dia akan bantu. Kita akui kita lelah secara fisik, mental, dan fikiran. Saya akui, ketika saya mengajak sahabat saya ikut serta, di saat itu saya sadar uang yg harus dibayarkan besarnya 2 kali lipat, begitu juga dg usaha saya. Tapi kenapa saya mengambil pilihan itu? Karna saya tau, dlm proses perjalanannya tdk akan mudah , saya butuh penyemangat. Ketika berhasil, saya ndak akan bahagia sendiri dan membiarkan sahabat saya melihat saya bahagia, tp saya memilih untuk bisa bahagia bersama. This is what we call as a friendship! 

Dan, kami memutuskan pinjam uang lagi untuk melunasi pembayaran program. Alhamdulillah, ada yg percaya ke kita wkwkw. Oke masalah selesai (sementara). Ada masalah baru lagi. Kita butuh tiket pesawat. Kita harus segera beli krn semakin dekat dg hari H, tiket pesawat harganya semakin mahal, kan? Punya uang? Ya jelas engga. Dari mana uangnya? Sudah pasti pinjam lagi. Hmmm ngelus dodo rek..
Dan alhamdulillah lagi masih ada yg percaya dg kita, ehehe. Tiket pesawat pun terbeli. Alhamdulillah. Masalah selesai (sementara).
Masih ada lagi? Oh sabar, masih ada ehehe

H-7 keberangkatan, dana yg sudah diacc wktu itu masih 6 jt, dan yg sudah cair masih 1 jt. Estimasi total 12-13 jt, trgntung harga tiket pesawat. Dan syukur kita masih dpt harga tiket pesawat< 1jt sekali jalan. Pdhl kita udh pinjam duit 12 jt (9 jt buat program, sisanya tiket pesawat pp). Jd kita kurang uang brp? Ya, betul 6 jt. Dari mana uangnya?? Saya jawab, dari Tuhan uangnya. Pasti ada jalan, sabarrr.... 

Saat itu kita ada pada level pasrah sepasrah-pasrahnya. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, istilahnya klo org jawa bilang smpek notok jedok. 

Teman, kadang pertolongan Tuhan datang di saat kita bener-bener merasa lemah tak berdaya di hadapan kebesaran kemampuan Tuhan. 

Di hari itu, kita dapat telfon, dari pihak yg sangat kita tunggu telfonnya sejak lama. Puji syukur, rencana kita tepat sasaran. Kita dapat dana 5 jt dr pemerintah kota surabaya. Ya allah, masyaallah. Hmm.. Alhamdulillah, bisa ganti uang orang eheheh.


Eit, tp masih ada 1 jt lg. Uang orang juga ini. Wkwk. Kita masih kepikiran, tapi setidaknya kita bs bernafas lega, krn misal kita ngga dapat, kita udh berencana buat ngumpulin uang jajan kita sembari cari kerja wkwkwk.

Tahukah kalian, smpai hari H belum ada pihak yg memberi kabar persetujuan permohonan dana lagi.  Kita semakin pasrah. 
Dan lagi, di saat kita menyerahkan semuanya ke Tuhan, di saat itulah pertolonganNya datang. 

Telfon berdering saat perjalanan menuju bandara juanda. Telfon dr nomer tak dikenal. Saya dan ewol saling lirik-lirikan sambil senyum, kita amat berhusnudzon bhwa ini nomer pihak yg kita ajukan dana.
"Halo, saya dr PT S**R ingin memberitahukan bahwa permohonan dana anda disetujui, dan kami hanya bisa membantu sebesar 1 juta rupiah untuk kegiatan yg anda ajukan".

Allahu akbar, jumlah yg pas dg jumlah hutang kita. You know this! Tuhan akan membalas proses kita, sekecil apapun itu. 
Kita pulang kuliah naik motor berdua di bawah menyengatnya matahari surabaya yg panasnya udh terkenal seantero jawa. Kita motoran keliling surabaya di siang bolong , pulang-pulang udh sore, selama bbrpa hari Banyak tempat yg kita datangi, banyak pula yg tak memberi jawaban pasti. Hari itu, menjadi hari yg bersejarah buat kita berdua. Hari itu pertama kalinya kita berdua menginjakkan kaki di luar negeri bersama, dan untuk pertama kalinya saya tau ternyata awan tak menempel di langit 😊😊

Alhamdulillah, hutang pun lunas. Kita jd ke luar negeri bersama. Kita belajar banyak kpd negeri tetangga. Tentang kedisiplinan orangnya, tntg kebersihan dan kerapian tempatnya, tentang optimisme bapak lee kwuan yu dlm membangun singapura. Kita belajar budaya meritokrasi (siapa yg kerja keras dan punya skill, tak memandang usia, suku, ras, agama, sanak saudara atau bukan, ia pantas mendapat apresiasi atas usahanya), dan banyak hal lain yg membekas di hati dan hidup kita. 

Foto di Marina Bay Sands, Garden By the Bay Singapore
Marinya Sands Bay, Singapura


Saya tekankan ke sahabat saya, bahwa kita berada di sini (Singapura) dg biaya masyarakat. Oleh karenanya, niatkan ini semua untuk kebaikan masyarakat. Caranya? Belajar sebanyak mungkin apa yg bisa kita pelajari di sini, bila kita belum bisa memberi sesuatu kepada masyarakat, paling tidak kita berbagi kebaikan dg berbuat baik kpd mereka.

Universal Studio Singapore
Universal Studio, Singapura

Hmmm..
Capek juga saya ngetik ini malem-malem.
Ini adalah sepenggal kisah hidup yg amat membekas di hati saya. Banyak kebaikan dan kebahagiaan yg saya peroleh, juga pelajaran hidup yg menjadi bekal untuk menghadapi episode-episode kehidupan selanjutnya.
Memang, ke singapura bisa menjadi hal biasa dan mudah bagi sebagian orang. Tapi bagi sebagian lainnya, ke singapura menjadi kisah perjalanan hidup yang penuh makna.

National University of Singapore (NUS)
National University of Singapore (NUS)


Sekian sharing saya kali ini..
Terimakasih banyak kpd pihak yg telah membantu dan menguatkan saya,
Terimakasih teman-teman telah membaca kisah ini,
Semoga ada nilai baik yg membekas di hatimu dan berguna di hidupmu,

Sampai jumpa di CoretanHam selanjutnyaaa ... 😊