Friday, June 5, 2020

Ini Balada Skripsiku, Yakin ngga pengen tau?

Skripsi adalah momen yang luar biasa dalam hidup saya. Dan juga menjadi masa-masa terberat dalam dunia perkuliahan yang saya jalani. Masa sih?

Iya bener. Bener-bener skripsi bukan hanya tentang menulis karya ilmiah, tetapi juga bagaimana belajar menata hati, menahan emosi, percaya diri, yakin dengan keputusan ilahi, cara berkomunikasi dan masih banyak lagi. Lengkapnya, ini baladaku tentang skripsi . . .

Sejak awal kuliah saya tidak terlalu akrab dengan yang namanya karya ilmiah. Mulai sedikit tertarik ketika ada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), itupun karena diajak temen. Karena gaes, bikin karya ilmiah itu ndak gampang cuy..

Mulai Riset tentang teorinya, trus cari metode ilmiahnya, trus eksprimen, nulis laporan hasilnya, itu rentetan yang umumnya dijalani untuk bikin karya ilmiah. Diperlukan kesabaran dalam membaca, mencari referensi yang dibutuhkan, membuat percobaan, menuangkan laporan dalam bentuk tulisan. Ya, karena banyak proses tersebut saya menjadi kurang berminat.

Sampai pada setengah perjalanan kuliah, saya masih ngawang sekali bagaimana proses perskripsian itu, meskipun pemandangan yang selalu saya lihat tetap sama, banyak kakak tingkat (kating) yang antri di depan ruang dosen.

Sampai akhirnya di semester 7 ada mata kuliah proposal skripsi. Saya dituntut untuk segera mencari judul penelitian, mencari dosen pembimbing, dan mencari inspirasi ke ruang baca lewat skripsi2 kating sebelumnya.

Saat semester 7, ada mata kuliah sebelumnya yang harus kembali saya ambil, yaitu Program Kerja Lapangan (PKL), karena laporan saya belum dicc/disetujui jadi hasil laporannya belum bisa disidangkan ke dosen pembimbing, so harus ngambil (lagi)matkul tersebut. Nah, karena sejak awal saya minat ke bidang Manajemen Limbah Padat, maka sejak PKL saya ambil topik ini. Pas bener bidang yang saya sukai diampu oleh dosen senior yang banyak dikenal killer di kalangan mahasiswa. Selain itu, beliau juga menerapkan kedisiplinan serta standar penilaian yang juga tinggi. Ada lagi, kesibukan yang luar biasa dan hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya membuat banyak mahasiswa memilih opsi lain (memilih topik selain limbah padat), selain juga mungkin bidang limbah padat bukan yang mereka minati.

Nah sejak masa PKL tersebut saya mulai mengetahui pola kerja dosen tersebut. Laporan yang tidak boleh ditulis asal-asalan, rujukan ilmiah yang harus betul-betul bisa dipertanggungjawabkan, waktu luang yang tidak banyak, tidak mudah memberi acc terhadap laporan yang mahasiswa kumpulkan,  mempertanyakan penguasaan terhadap teori2, dan memberi pressure untuk menguji mental mahasiswa, dsb.

Karena itulah, saya menjadi bimbang. Memilih jalan yang tidak mudah tapi mengerjakan apa yang saya sukai, atau memilih opsi lain yang berpotensi memiliki jalan lebih mudah tetapi bidang yang akan saya kerjakan tidak terlalu saya suka. Molornya PKL yang harusnya selesai di semster 6 (layaknya teman2 saya lainnya) menjadi bukti dan bahan pertimbangan saya, betapa jalan yang harus ditempuh tidak akan mudah jika saya memilih bidang yang saya minati, karena sejatinya PKL adalah media berlatih sebelum menginjak dunia perskripsian.

Dan, akhirnya saya memutuskan untuk kembali memilih dosen X (pembimbing PKL saya) untuk menjadi pembimbing skripsi saya. Artinya, saya memilih untuk melakukan hal yang saya suka, dan juga saya yakin mampu menjalaninya, dengan segala resiko dan rintangan di depan yang siap saya hadapi.

Dosen saya menerima saya sebagai mahasiswa bimbingnya. Hamdalah. Ini artinya, saya siap dan pasrah atas segala didikan yang akan saya terima melalui perskripsian ini.

Pertama kali saya mengajukan judul, saya membawa draft proposal, yang isinya kerangka penelitian. Saya jelaskan ke dosen bagaimana saya akan menjalankan penelitian yg saya ajukan. Dosen saya memang menyimak, tetapi beliau scrolling hp, dan tepat setelah saya menjelaskan kerangka skripsi, beliau menyodorkan hpnya ke saya, " Kenapa kamu ngga ambil topik skripsi ini aja?"

Saya, tercengang. Beliau yang sedari tadi sibuk scrolling hp ternyata sedang mencari artikel tentang Suroboyo Bus. "Apa yang kamu jelaskan adalah topik yang sering dan sudah banyak dibahas katingmu, ngapain kamu ambil itu, kamu harus punya penelitian yang berbeda, agar kamu juga punya penemuan baru dan orang bisa mengenal kamu karena kamu melakukan penelitian tentang topik yang sangat baru, yang bahkan mungkin belum ada orang yang melakukannya.".

Saya, termangu.

"Baik Bu, akan saya coba".
"Tapi, gimana caranya bu? saya sama sekali ngga punya gambaran tentang topik ini"
"Kalau saya kasih tau, itu namanya saya yang mengerjakan skripsi"
 Plak. Saya menelan ludah dan memaksakan melebarkan senyuman saya
"Baik bu, akan saya coba"
"Oke, kalau sudah siap dengan bahannya (bab 1,2,3), nanti kesini lagi"
Baik, Bu.

Keluar ruangan, dunia terasa gelap, meski siang itu sangat terang.
Saya menghela nafas panjang, mulai berfikir serius bagaimana saya bisa melakukan penelitian ini, sedangkan tidak ada satupun rujukan penelitian tentang topik yg sama sebelumnya. Jangankan rujukan hasil penelitian, rujukan berupa informasi saja saya tidak tau ada atau ngga.

Saya pun mulai mengerahkan segala tenaga untuk melawan kemalasan. Bersabar dan tetap fokus dalam mencari literatur, meraba metoda apa yang akan dipakai, menggali lebih dalam data-data terkait Suroboyo Bus yang menjadi latar belakang penelitian.

Semester 7 adalah semester paling berat secara bobot akademis. Karena di semester inilah, saya mendapat 2 tugas besar. Apa itu tugas besar?

Dalam jurusan teknik, umumnya kita punya tugas besar, yaitu tugas yang masa pengerjaannya selama satu semester, bisa kelompok bisa juga per individu. Jadi, di matkul yang ada tugas besar, dalam satu semester tersebut hanya ada tugas besar yang diberikan, tidak ada tugas lain karena memang tidak mudah tugas yang harus dikerjakan. Misalnya di jurusan saya, waktu itu saya memeiliki 2 tugas besar,yaitu membuat perencanaan bangunan pengolahan air minum dan perencanaan bangunan pengolahan air limbah. Tugas yang begitu rumit, banyak step-step yang harus dijalani, full perhitungan. Tidak akan bisa mengerjakan tugas semacam ini dengan sks, jadi setiap hari harus dicicil smpai satu semster. Karena tugas besar itulah, hanya sebagian kecil malam hari yang saya gunakan tidur. Hampir setiap hari saya begadang sampai subuh, atau bahkan sampai pagi. Banyak sekali waktu saya yang tersita. Belum lagi urusan laporan PKL yang tak kunjung diacc.

Karena itulah, rasanya 24 jam waktu yang saya punya tidak cukup saat itu. Beban tugas besar yang saya emban, tidak bisa membuat skripsi dikesampingkan.

Teman-teman. Jika kalian pernah mengerjakan skripsi, kalian tentu merasakan betapa untuk memulai mengerjakan skripsi dibutuhkan effort yang sangat besar, mulai menyingkirkan malas, menemukan ide di tengah keabstrakan penelitian yang akan dilakukan, berusaha fokus dg berfikir seolah-olah tdk ada tugas lain yg harus dikerjakan, sabar mencari literatur yang pas dengan yang dibutuhkan dari sekian banyaknya jurnal.

Ini juga yang saya rasakan.
Setiap saya ingin mengerjakan skripsi, melihat laptop saja nyali saya sudah menciut. Karena skripsi memang penuh keabstrakan. Saya, diliputi kebingungan. Jika penelitian yg akan kita lakukan  topiknya pernah dikerjakan orang lain sebelumnya, akan lebih mudah bagi kita karena ada gambaran kerangka penelitiannya seperti apa.

Lha ini?
Suroboyo Bus saja waktu itu baru beroperasi 6 bulan. Kebijakannya pun, terus berprogress. Jangan harap dapat kerangka penelitian, wong saya ketik di google rata-rata informasi yang saya peroleh sama saja, cara naik Suroboyo Bus, bukan data-data terkait penumpang, sampah ataupun data rapi lainnya yang sekiranya dapat dijadikan referensi.
Di saat yang sama, saya terus kepikiran tugas besar saya, yang meskipun sulit, paling tidak apa yang harus saya kerjakan di tugas besar  lebih jelas, misal mencari persamaan x, menghitung luas bangunan, sesuatu yang bisa dilihat jelas ke mana arahnya. Ini yang menjadikan saya, selalu menunda skripsi, karena pikir saya, 2 jam di depan laptop dengan niat ngerjain skripsi, akan sangat berbeda hasilnya jika 2 jam tersebut saya gunakan mengerjakan tugas besar.

Tapi, yang harus dicatat adalah jika skripsi terus ditunda, maka jiwa malas akan semakin menggerogoti kita dan skripsi justru semakin ngga selesai-selesai.

Jadi, yg saya terapkan waktu itu adalah, saya cari suasana lingkungan yang paling tenang, suasana mood yang lagi baik-baiknya, kondisi badan yang sedang fresh, agar ketika mengerjakan skripsi saya bisa sangat fokus. Kalau udh bludrek dan ngga nemu ide, saya tutup file skripsi, saya buka kembali lembar tugas besar saya :) Begitu trus yang saya lakukan selama satu semester.

Setelah pertemuan pertama yang membahas judul, saya kembali menemui dosen saya, kira-kira satu bulan setelah pertemuan sebelumnya :)
Dan, yang saya terima adalah proposal saya penuh coretan di mana-mana. Latar belakang masih dangkal, literatur kurang, metode belum jelas.
Dosen saya tipikal orang yang sampaikanlah kejujuran meski itu nylekit wkwkw. Kalau beliau bilang seperti itu, saya percaya bahwa tulisan saya memang masih ecek-ecek, belum berbobot, dan masih banyak yang harus saya perbaiki. Saya terima semua yg dosen saya sampaikan, meski mbrebes mili ning njero ati. Down? sedikit. Karena kurang lebih rasanya sama seperti saat saya pertama kali mengumpulkan laporan PKL ke ibunya.

Masalahnya adalah, setelah apa yg beliau sampaikan, saya mencoba mempertanyakan, lalu saya harus bagaimana bu, saya butuh pencerahan. Saya betul-betul butuh sedikit saja gambaran yang bisa memancing imajinasi saya. Bukan Bu X namanya jika di awal menjelaskan semuanya secara detail Saya diajak bermain analogi, mengembangkan imajinasi, menggali segi kreativitas dalam berpikir, dan endingnya, beliau berkata " Perluas sudut pandangmu, coba gali dari berbagai sudut pandang yang ada, supaya kamu bisa menemukan apa yang mesti kamu lakukan", ya kurang lebihnya seperti itu.

Keluar ruangan, bukan hanya dunia yang terasa gelap, masa depan perskripsian saya yang kini terasa semakin suram. Sementara saya kebingungan arah tanpa pegangan dan tujuan, teman-teman saya perlahan sudah mulai sidang proposal. Mental semakin memburuk, ide tak kunjung datang, tugas besar masih jauh dari kata selesai, sidang pkl pun ngga ada kabar. Lengkap sudah ujian hidup ini.Yaa Allah..

Inilah kenapa kuliah penting. Mahasiswa sering sekali terlatih menghadapi lebih dari satu masalah di saat yang bersamaan. Tidak bisa jika harus diselesaikan satu-satu, karena masalah2 tersbut datang di waktu yang sama dan menuntut kita untuk menyelesaikannya bersamaan.Beginilah cara pembentukan mental di dunia perkuliahan. Mau mundur? Sudah terlanjur basah kok..! Ngga ada pilihan lain selain maju teruss!!

Saya pulang dengan lembaran proposal penuh coretan dan miskin pencerahan. Bukanlah diri saya jikalau cepat menyerah dengan keadaan.
Saya coba untuk sedikit mengendorkan waktu untuk mengerjakan tugas besar, agar lebih fokus dalam mengerjakan skripsi. Karena jika semakin lama saya tidak mengumpulkan skripsi, semakin lama pula saya mendapat kesempatan untuk bimbingan ke dosen. Kenapa begitu?
Sudah saya singgung di awal bahwa dosen saya sibuk sekali. Banyak proyek penelitian baik dari kampus maupun luar kampus yang sedang ditangani, rapat, ngajar, bimbing skripsi, dan tugas-tugas lain yang menyita waktu dosen saya. Karenanya, dosen saya membuat peraturan dalam proses bimbingan skripsi, yaitu mahasiswa mengumpulkan revisi ke loker yg disediakan, lalu tinggal menunggu sampai dosen memanggil kita via chat. Jadi kalau saya mengumpulkan hari ini, ndak bisa langsung bimbingan mas bro, antri dulu. Biasanya dulu saya baru bisa bimbingan setelah seminggu mengumpulkan :)

Perlahan tapi pasti, saya coba gali terus ide-ide, saya paksa imajinasi saya, saya perbesar kesabaran saya dalam mencari data, literatur, dan juga kesabaran dalam menuliskan ide yang ada di pikiran. Bimbingan selanjutnya ndak banyak coretan sprti sebelumnya. Hanya saja, apa yang saya tulis belum cukup memuaskan dosen saya. "Ini latar belakangnya masih kurang dalam, metodenya masih kurang detail".

Oke, saya keluar ruangan masih dengan wajah masam.
Tapi,saya bersyukur laporan pkl saya sudah diacc. Ah nikmatnya beban pikiran berkurang satu.
Meski tugas besar masih jauh dari garis finish.

Malam hari saya habiskan untuk begadang, mengerjakan skripsi, lalu mengerjakan tugas besar. Untuk membuat mata saya terjaga, saya hampir selalu sedia kopi. Jika adzan subuh telah berkumandang, saya sudahi begadang saya.  Trus ngga tidur? Pagi biasanya saya mengqadha' tidur saya, lho ngga kuliah?  Saat itu jadwal kuliah di kelas sudah sangat jarang karena hanya tersisa mata kuliah "super" yang masih ada. Malam hari juga saya pilih karena ketenangan yang tidak bisa selalu dirasakan saat siang hari. Karena memang saya tipe orang yang harus fokus saat mengerjakan sesuatu, sementara saya mudah terdistraksi oleh sesuatu, jdi malam menjadi waktu yang pas buat saya mengerjakan tugas.
Siang hari juga saya manfaatkan untuk mengerjakan tugas besar ini. Bener deh ini tugas besar kebawa trus di pikiran saya ke manapun saya pergi. Rasanya saat itu saya berada dalam dunia lain, karena pikiran saya penuh dengan skripsi dan tugas besar, karena tugas besar ini tugas individu, mulai cari dasar teori, cari rumus, ngitung detail, gambar, wih panjang prosesnya, satu tugas besar bisa sampai 100 halaman lo. Itu isinya ngga alfabet semua, tapi juga angka-angka.

Saya kembali menemui dosen saya. Tulisan saya masih banyak yang harus diperbaiki. Begitu terus sampai datanglah masa di mana semester 7 sudah selesai, tetapi proposal saya tak kunjung diacc. Gaes, come on ini proposal ya, belum skripsi beneran wkwkw. Sementara itu, hampir keseluruhan teman2 angkatan saya sudah sidang proposal (Telah disetujui) dan mereka tinggal menunggu nilai.

Saya semakin kepikiran, karena jika proposal saya tidak selesai semester 7, maka di semester 8 saya tidak bisa mengambil mata kuliah skrispi, karena matkul proposal skripsi menjadi syarat untuk bisa mengambil skripsi. Itu artinya kuliah saya bisa molor. Sampai semester 7 bener-bener usai, proposal saya belum juga disetujui. Dan fix kuliah saya molor.

Memasuki awal semester 8, saya kembali menemui dosen saya. Di beberapa bimbingan, saya sempet lose hope karena ngga ngerti lagi dengan pemikiran dosen saya. Karena jujur ya, entah disadari dosen saya atau tidak ada hal yang begitu membingungkan saya. Misalnya begini ya,

 (Pertemuan sebelumnya)
"Kamu tambah materimu tentang A, B,C, untuk memperdalam tulisan kamu"
"Baik, bu"

(Pas ketemu lagi)
"Ngapain kamu tambahkan materi A,B,C, ke tulisan kamu, memangnya kamu mau membahas tentang topik itu"
Saya kaget, dalam hati saya bilang, loh inikan materi yang jelas-jelas ibu minta sendiri untuk ditambahkan. Sesungguhnya ini ngga terjadi sekali, teman-teman. Berkali-kali saya rombak tulisan saya.

Kenapa ngga bilang ke dosen aja?
Kenapa ya, semua teman-teman saya mengakui merasakan ketegangan yang luar biasa saat berhadapan dg beliau, sampai-sampai apa yg ingin disampaikan hanya dibatin saja wkwkw dan ini juga yg saya rasakan. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang. Tidak ada progress yg berarti apalagi kepastian sidang di setiap bimbingan. Padahal untuk bisa bertemu ibunya ndak gampang. Tak jarang saya menunggu dari pagi sampai sore, eh ngga bisa bimbingan. Pernah suatu hari nunggu dari pagi sampai malam sampai ngga ada satupun mahasiswa yang saya liat di fakultas, karena ibunya masih di luar. Tiba-tiba saya dichat kalau bimbingan dicancel :)
Kalau begini terus, sampai kapanpun saya ya ngga sidang-sidang. Sementara itu, teman-teman saya ada yang sudah memulai penelitian.

Saat-saat inilah mental saya terpental dan jatuh. Saya mulai menyadari bahwa saya tidak hanya sedang belajar membuat karya ilmiah yang baik, karena saya merasa sudah mengikuti semua instruksi dosen saya (Sekali lagi, ini perasaan saya ya) tapi saya juga sedang belajar menghadapi hati yang tak menentu. Saya senang sekali jika dosen saya menginginkan suatu karya ilmiah yang baik, tetapi berpindah-pindahnya kemauan dosen di setiap bimbingan membuat saya berpikir, apa yang sebenarnya diinginkan dosen saya? Pelajaran apa yang ingin diajarkan ke saya sampai harus begini banget. Manusiawi jika saya ingin mengumpat, kesal, marah, tetapi selalu saya ingatkan diri saya bahwa beliau adalah seorang guru. Sejak dini ditanamkan kuat dalam diri saya bahwa guru mutlak untuk dihormati dan dihargai, karena ilmu yang mereka ajarkan. Seberapapun kita sakit hati, sedih, kesal karenanya, rasa hormat tak boleh sedikitpun diabaikan (kecuali dlm hal-hal yg sudah melampaui norma yg berlaku ya).

Bisa saja saya melawan argumen dg nada tinggi, meluapkan kekesalan saya, menunjukkan kesalahan guru, tapi saya pikir itu bukan pilihan yang baik bagi saya. Cukuplah telan saja semuanya, saya anggap ini sebuah cara dosen saya dalam menghajar mental saya agar ke depan menjadi pribadi yang kuat, yang ga gampang lembek dengan gertakan, ga gampang menyerah dengan keadaan sulit, saya tetap berprasangka baik, akan ada nilai baik yang bisa saya ambil.

Saya tidak tau lagi harus mencari referensi apa, menuliskan gagasan apalagi.
Tidak bisa dibohongi, pikiran saya semakin kacau. Pikiran berat banget rasanya, stres saya. wkwkwk. Terlebih, kebiasaan saya begadang setiap hari saat semester 7, ngopi tiap hari, dan pola makan serta tidur yang sangat tidak teratur membuat badan saya merespon dengan kurang baik. Setiap malam saya demam, besok siangnya demam turun tapi kepala pusing sekali. Begitu terus sampai 2 minggu demam saya ngga hilang. Ada kating yang curiga saya kena tipes melihat gejalanya. Saya ke dokter. Dokter bilang saya kena gejala tipes. Sahabat saya, ewol kurang percaya kalau masih gejala, karena saya demam 2 minggu lamanya. Ewol memaksa saya tes darah dan tes widal. Dan betul, mbak yang ngasih tau hasilnya kaget melihat hasil lab saya. Mbaknya bilang, "Mbaknya positif tipes dg titer yg udh tinggi banget, tapi kok masih jalan-jalan harusnya sudah opname". Teman saya mahasiswa keperawatan, melihat hasil tesnya, dia lebih paham seberapa parah tipes saya dari pada saya. Saat itu juga saya dibawa ke rumah sakit. Yak, saya drop. Saat itu pertengahan semster 8. Saya lepas semua hal yang membebani pikiran saya, termasuk skripsi saya.

5 hari opname, kondisi saya semakin membaik dr sebelumnya, tapi kesehatan saya belum bisa dikatakan baik. Lemas, sering muntah, kepala saya hampir selalu pusing. Saya masih menetap di asrama, sampai 2 minggu. Tapi saya belum juga sembuh. Akhirnya saya pulang ke rumah. Skripsi saya? Bye!

Saya bedrest total, termasuk dari main social media yang bisa mengganggu pikiran saya. Setiap minggu selama 3 bulan saya harus kontrol ke rumah sakit. Kondisi badan lemas sekali, karenanya saya tidak memikirkan kuliah saya. Dan hamdalah setelah 3 bulan kondisi saya semakin membaik, meski belum seperti orang sehat pada umumnya.  Saya memutuskan kembali ke Surabaya dan bedrest di asrama. Seminggu di Surabaya, saya dichat dosen saya, "Hamida kapan mau sidang, 2 minggu lagi batas waktu input nilai untuk semster ini". Saya kaget luar biasa. Mengingat kondisi saya yang masih lemas. Untuk kontrol ke rumah sakit saja saya selalu keringat dingin, pengen muntah, dan badan lemas. Yang pernah tipes, pasti tau rasanya ini. Dalam kondisi seperti ini, saya terpaksa harus kembali melanjutkan propsal saya.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah 3 bulan saya sakit, saya keluar malam-malam bawa motor sendiri pergi ke rumah dosen saya, ya saya mau bimbingan. Saya berharap malam itu proposal saya diacc. Selama perjalanan, saya berkali-kali mual, badan keringat dingin, masuk angin, sepertinya badan saya kaget kena udara luar. haha. Dan betul, malam itu proposal saya disetujui dan saya bisa sidang proposal. Saya berharap dan mencoba meyakinkan diri saya, bahwa saya diacc karena proposal saya memang pantas untuk disidangkan, dan bukan karena kondisi saya yang sedang sakit mengingat masa semester 8 tersisa 2 minggu saja. Semoga saja begitu. Setiap orang pasti ingin dihargai karena karyanya, bukan atas belas kasihan org lain kepada kita karena kondisi tertentu. Hamdalah.

Seminggu kemudian saya sidang proposal. Saya melihat raut wajah bahagia dari sahabat dan juga kawan2 yg tau lika-liku perjalanan saya.

Foto saat seminar proposal skripsi
Ini saat saya seminar proposal skripsi :)


Setelah sidang proposal, saatnya penelitian. Ohiya, setelah rehat 3 bulan, mental saya terasa jauh lebih baik. Selama 3 bulan itu, saya renungkan pelajaran apa yang bisa saya ambil setelah 1 tahun berkutik dg skripsi. Say syukuri setiap perjalanan hidup saya, di saat itulah hati syaa menjadi tenang. Pelan-pelan mental saya kembali bangkit. Dan saya merasa lebih siap untuk melanjutkan perjalanan skripsi saya, jauh lebih siap secara mental dari sebelumnya.

Penelitian di tempat penukaran sampah dengan tiket suroboyo bus di Terminal Bungurasih
Tempat penelitian saya, lokasi penukaran sampah dengan tiket Suroboyo Bus, Terminal Purabaya


Alhamdulillah penelitian berjalan dengan lancar. Saya penelitian di terminal purabaya dan halte rajawali. Di sana saya bertemu orang2 yg luar biasa. Orang2 yg membantu jalannyaa penelitian saya. Juga, orang2 yg bersedia membagikan kisah hidupnya ke saya. Betapa keras hidup mereka, tiap hari berkutat dengan sampah, menghadapi macam-macam masyarakat surabaya. Mereka juga bertahan melakukan hal yang sama setiap harinya bertahun-tahun. Ini luar biasa bagi saya yg mudah bosan. 



 Karna penelitian ini juga, saya tau betapa lelahnya kerja di lapangan, menguras emosi, mempelajari cara berkomunikasi dan menghadapi masyarakat yg karakternya berbeda-beda. Karna penelitian ini pula, saya tau susahnya masyarakat kita untuk taat peraturan. Sudah dikasih kemudahan, bukannya berterima kasih, justru menyalahkan pembuat kebijakan krn dianggap mempersulit. Saya jadi tau susahnya memperbaiki pola pikir masyarakat, menghilangkan kebiasaan2 tak baik yg krn kebiasaan lantas dianggap baik, masalah KKN yg turun temurun.Intinya, turun ke lapangan membuat mata saya melek akan realita kondisi masyarakat kita. 

Penukaran sampah dengan tiket Suroboyo Bus di Halte Rajawali
Penukaran sampah dengan tiket Suroboyo Bus di Halte Rajawali


Penelitian pun selesai. Saya memasuki fase yg sangat berat. Ya, fase di mana kita sudah mendapatkan data dan harus memulai menulis hasil dan pembahasan. Bukannya gampang, kan udh ada datanya?

Lokasi penukaran sampah dengan tiket Suroboyo Bus di Halte Rajawali
Mas Rizki, Pak Ulul, Mas Yayak, Trimakasih sudah membantu saya

Haha, tunggu dulu mas bro, tampaknya memang begitu, nyatanya memulai tulisan  dari mana aja sudah sangat sulit. Dalam menulis laporan penelitian (hasil dan pmbahasan) tidak cukup hanya menyampaikan hasil saja. Tapi, kita harus jeli melihat celah dari data2 yg kita peroleh untuk selanjutnya menjadi bahan untuk pembahasan. Tak cukup hanya data, pembahasan juga harus disertai dg teori yang ada. Kalimat dalam menyampaikan data juga harus diperhatikan, seperti pemakaian diksi, agar pembahasan kita mudah dipahami dan tidak membosankan.
Pada fase ini, saya betul-betul berjuang melawan kemalasan dan berusaha keras menggali ide. Jika saat proposal ada keabstarakan yg harus kita wujudkan, maka dlm pembahasan kita harus memunculkan ide dari celah2 yg trdpt dlm data kita. Nah itu ngga gmpang, cukup lama waktu yg saya butuhkan untuk akhirnya selesai mengerjakan pembahasan.

Perpustakaan Kampus B Unair
Perpustakaan Kampus B Unair


Setiap hari saya ke perpus brsama sahabat saya yg juga lagi skripsian untuk mengerjakan pembahasan. Dari skripsi saya belajar, sungguh tidak mudah menuangkan ide dan gagasan yg mudah kita sampaikan lewat lisan untuk dijadikan tulisan yang memahamkan orang. Dalam sehari mentok saya dapat 2 halaman, kalau lagi bludrek paling cuma 1 paragraf, kalo pas ngga ada ide, saya buka laptop, saya tidur di perpus :) Ketahuilah, bahwa membuka laptop adalah pencapaian luar biasa bg mahasiswa perskripsian, meskipun setelah memencet tombol on kita tinggal maen game, ngobrol, atau tidur. Karena sesungguhnya menyalakan laptop memberi ketenangan sendiri bagi jiwa-jiwa pejuang skripsi. Seolah-olah itu adalah prestasi yg musti diapresiasi.



Selama pembahasan belum selesai, saya ngga ngampus sama sekali. Saya tidak ingin pembahasan saya belum maksimal, kemudian saya ajukan ke dosen, lantas membuat dosen saya mengarahkan isi pembahasan saya dr awal smpai akhir. Saya ingin, setelah saya menuangkan semua ide pembahasan saya scra maksimal, saya ajukan ke dosen untuk meminimalisir kesalahan dan memaksimalkan apa yg ingin saya tulis. Dan hamdalah, memang masih banyak perbaikan, tapi saya merasakan perbedaan dosen saya dalam merevisi. Bimbingan berjalan sewajarnya, dosen saya tidak mengubah alur pembahasan saya, hanya memberi penekanan untuk menambah bahasan di beberapa sub bab. Kesulitan pd tahap ini adalah proses mencari dan menuangkan gagasan yg memakan waktu cukup lama. Saya akui saya memang membutuhkan waktu lama untuk berfikir, agak loading memang 😊😊.
Ini yg kemudian menjadi faktor sampai akhir semester 9, saya belum diacc, masih ada perbaikan yg harus saya lakukan. 
Kembali, saya harus memperpanjang masa studi saya. Ya, semester ke-10. Di awal semester, hamdalah skripsi saya diacc dan saya bisa sidang.

Sahabat saya, ewol 😊


Selesai? 
Belum!😅 masih ada drama.

Sekitar 10 hari menjelang sidang skripsi, saya mulai ngga enak badan. Demam, mual, dan keringat dingin. Gejala trsbut terus saya rasakan sampai seminggu (h-3). Saya curiga, tipes saya kambuh karena gejala yg negitu mirip saat saya sakit tipes dulu. Besoknya, saya tes widal. Dan betul, saya positif tipes. Malam demam, siang harinya panas turun, tapi keringat dingin. Ini juga yg membuat saya belum bisa bikin ppt dan belajar ala kadarnya. Saya sempat kepikiran untuk menunda sidang, tapi saya ingat susahnya mencocokkan jadwal dari 4 dosen penguji saya. Akhirnya h-2 saya bikin ppt, siang malam. H-1 ppt saya selesai. 

Saat mlm hari H, badan saya masih panas. Besoknya, saya juga masih keringat dingin. Saya berpakaian rapi lengkap dg almamater dg harapan jas almamater bisa menangkal dinginnya udara luar. 
Tapi, ternyata ruang sidang sangat dingin. Tempat di mana saya presentasi tepat di bawah ac 😊. Sepanjang sidang, saya kedinginan, keringat dingin dan menahan sekuat mungkin untuk tidak muntah, karena beneran mual banget. Cukup sulit untuk fokus dalam kondisi tersebut.
Syukur sekali saya bisa melewati itu. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus.

Usai Sidang skripsi Fakultas Sains dan Teknologi Unair Kampus C
Berfoto bersama teman-teman usai sidang skripsi di FST Unair


Hmmm...
Lelah sekali menulis ini, terlebih membayangkan lelahnya perjuangan menyelesaikan skripsi. 

Dari skripsi, saya belajar 
untuk menjadi bisa, tidak bisa instant,
bahwa emosi bukanlah solusi,
bahwa mental semakin dihajar, akan semakin tahan banting,
bahwa bersabar adalah kebijaksanaan dalam berproses,
bahwa adab tetaplah di atas ilmu,
bahwa menyerah hanyalah godaan sesaat,
bahwa tersenyum adalah representasi segala kegundahan
bahwa prasangka baik, sungguh menyehatkan pikiran,
bahwa menerima, mendatangkan ketenangan,
bahwa kita adalah makhluk sosial, 

Banyak nilai kehidupan yg dapat dipetik dari berskripsi,
Asal kita jeli mengamati dan mau mempelajari

Sesungguhnya, skripsi saya bisa selesai selain atas ridho Allah, juga berkat dukungan yg luar biasa dari sahabat saya juga kawan2 saya. Support mereka, begitu berharga dalam perjalanan saya. Terimakasih kalian telah menguatkan mental saya. Juga, orang2 yg membantu saya saat penelitian di lapangan. Terimakasih telah mengajarkan saya untuk kuat dan tabah dalam kerasnya hidup. Khususnya, untuk sahabat saya, terimakasih telah merawat saya 24 jam selama saya di rs dan juga sepulangnya dr sana, meski dirimu juga sedang memperjuangkan skripsimu. Sebuah pengorbanan yg hanya bisa terbalaskan oleh pertolonganNya.
Terimakasih juga, untuk orang2 yg menerima sambatan saya, membuat saya kembali tersenyum di kala hati ini lelah. Terimakasih untuk dosen saya atas pelajaran berharga yg tidak saya dapatkan di kelas selama 6 semester sebelumnya.
Terimakasih kepada Tuhan yg begitu Maha Baik mempertemukan saya dg orang2 tersebut.

Juga, 
Terimakasih kawan kawan sudah setia membaca kisah saya sampai akhir. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi barangkali lewat kisah ini, ada nilai baik yg menetap di hatimu, dan berguna di hidupmu. Semoga 😊

Sampai jumpa di CoretanHam berikutnya yaa .. 😊

#Baladaskripsiku
#CoretanHam
#Let'sInspire 
















Thursday, June 4, 2020

Selamat Hari Pendidikan 2020, Generasi Emas Negeriku

Bapak Ibu, Saudara-saudara, teman-teman semuanya, selamat memeringati Hari Pendidikan Nasional 😊. 

Saya percaya pendidikan adalah bekal untuk membangun peradaban manusia menjadi lebih baik. 

Pendidikan tak melulu tentang belajar di kelas. Belajar bisa dilakukan di mana saja, kpd siapa saja, dan terhadap apa saja, melalu berbagai cara yg sekiranya nyaman buat kita. Misal dengan membaca, mengamati, mendengar, diskusi (ngobrol), atau cara2 lainnya asalkan kita bisa jeli "mencuri" ilmu dlm setiap aktivitas di hidup kita. 

Semakin hari semakin saya sadari bahwa betapa pentingnya pendidikan karakter, betapa luar biasa dampaknya, dan sebisa mungkin ditanamkan sejak dini. Masih banyak dr kita yg meremehkan budaya antri. Main srobot sana sini, tanpa menyadari tindakannya menyakiti banyak hati dan telah merampas hak org lain. Bagi saya, itu sebuah kedzaliman trhdp org lain. 

Masih banyak dr kita yg tanpa merasa berdosa menerobos lalu lintas, dan hanya mematuhi jika ada polisi tanpa memikirkan bahaya yg mengancam diri bahkan org lain. Saya percaya, peraturan itu ada krn adanya ketidakteraturan. Peraturan bs menjadi sarana agar sesuatunya berjalan teratur. Lihat saja negara2 maju klo kita ingin lihat hasil dr sebuah ketaatan terhadap peraturan. Jalan dan sungai bersih sekali krn warganya taat membuang sampah di tempatnya. Yg menikmati siapa? Ya masyarakat itu sendiri, mereka yg menaati peraturan, mereka juga lah yg menikmati hasilnya. 

Masih banyak dr kita yg meremehkan hal-hal kecil seolah hal kecil tersebut tak berpengaruh trhdp apapun dan tak mungkin menjadi hal besar. Pdhl lilin menyala yg tak sengaja jatuh dan apinya mengenai korden jendela, dampaknya mungkin sekali bs smpai menghanguskan seisi rumah tersebut.

 Masih banyak dr kita yg punya mental menjatuhkan, dan bukan malah mendukung. Ada teman yg punya rencana/mimpi besar, bukannya disemangati malah diejek mimpinya terlalu tinggi. Bagaimana akan tumbuh generasi gemilang jika mimpi saja tak boleh, jika mimpi saja dicaci maki dan dibully. 

Masih banyak dr kita yg tdk bisa mengapresiasi pilihan org lain, bhkan lebih buruknya smpai pd tahap membenci hanya krn beda pendapat, beda pilihan, beda persepsi, hanya karena tingginya ego dan sempitnya literasi. 

Masih banyak dr kita yg mementingkan diri sendiri seolah tak peduli bahwa org lain trnyata sangat terganggu dg kesewenangan kita. Contoh sederhana, memutar video youtube volume maks di dlm kereta, tnpa peduli bnyak telinga yg risih mendengarnya. Semua org di dlm gerbong "dipaksa" mendengar video kita yg tak selalu nyaman untuk telinga mereka atau bnyak dr kita yg parkir sembarangan tanpa peduli banyak kendaraan terhalang olehnya. Pokoknya hasrat diri sendiri terpenuhi. 

Masih banyak dari kita yg meremehkan disiplin termasuk disiplin waktu krn merasa itu bukan hal penting, smpai akhirnya tersadar ketika ketinggalan kereta/pesawat krn telat 1 menit. 

Masih banyak dr kita yg meremehkan kesalahan kecil dan mentolerirnya, smpai pd titik kesalahan trsebut menjadi kebiasaan dan dianggap bukan kesalahan. Org2 yg mentolerir pungli, udh gapapa cuma 5 rb, cuma 10 rb, cuma 20 rb. Mereka tidak sadar kebiasaan itu bisa terbawa smpai dewasa dan pd akhirnya merasa masih biasa saja ketika korupsi jutaan atau miliaran. Sekali lagi krn kesalahan kecil yg ditolerir, lantas dianggap biasa dan ngga papa. Akhirnya terbentuklah mental-mental koruptor yg menggerogoti uang "saudara" sendiri. 

Masih banyak dr kita yg sukar untuk mengucapkan minta tolong dan terimakasih krn gengsi atau menganggap itu hal yg tak penting. Pdhl jika itu dibiasakan sejak dini, maka anak akan belajar bahwa kita ini hidup perlu bantuan org lain dan perlu menghargai usaha org lain sekecil apapun itu. 

Sungguh, pendidikan karakter jauh lebih sulit dipahami dan dipraktekkan dr pd memecahkan soal matematika atau soal-soal fisika. 

Kita terlalu banyak dan lama sekali terlena akan angka-angka di rapot. Lalu gampang sekali memberi gelar pintar pd mereka yg nilainya 100 dan bodoh pd mereka yg nilainya 0. Masa depan gemilang jika memperoleh rangking 1, dan masa depan suram jika rangking absen terakhir. Sebuah judgment yg bisa saja membunuh harapan2 banyak anak. 

Mari bersama-sama belajar kembali dan memaknai apa itu menghormati, apa itu mengapresiasi, apa itu berbudi pekerti, apa itu memahami, mengerti dan bagaimana bersikap manusiawi. Pendidikan karakter akan selalu berguna sepanjang hayat, manfaat dan bahayanya mampu menjangkau banyak umat, tapi banyak dr kita yg masih memandangnya sebelah mata. Kita khawatir  jika kita, anak kita, atau saudara kita tak pandai matematika. Tapi kita abai jika mereka buang sampah sembarangan, tak pandai antri, meminta tolong, dan berterimakasih.

 Semoga di hari pendidikan ini, kita tdk hanya mengingatnya sbg hari pendidikan secara ritual tahunan, tp juga dpt memaknai scra substansial agar generasi-generasi kita tumbuh dan berkembang dg karakter yg melekat. 

Saya menulis ini bukan berarti saya paling benar dan mengerti, oleh karenanya saya pakai subjek "kita" dg tujuan bs menjadi bahan renungan saya, dan panjenengan semua. 


Sekali lagi, selamat hari pendidikan 😊

Ini keresahanku,
Apa, keresahanmu? 


Keresahan ini sebelumnya saya tulis di akun facebook saya pada tanggal 2 Mei 2020.

#SelamatHariPendidikan2020
#Bangkitlahgenerasiemasnegeriku
#CoretanHam
#Let'sInspire

Resah Ditinggal Kekasih (Bulan Ramadhan)

Apa yang kita rasakan di malam terakhir Ramadhan ini?

Senang kah kita krn segera "terlepas" dari kewajiban berpuasa (menahan)?
Atau sedih kah kita karena merasa masih "terbelenggu" oleh nafsu?

Siapkah kita meneruskan apa yg telah kita mulai, pelajari, dan biasakan di bulan ramadhan? 


Jangan-jangan kita justru merasa bebas setelah ini karena sudah bukan bulan ramadhan,

Jangan-jangan bulan ramadhan hanya penyemangat ibadah kita sesaat karena iming-iming balasan dr Tuhan yg begitu menggiurkan,

Jangan-jangan ramadhan menjadi bukti ketidakikhlasan kita dalam beribadah kepadaNya.


Apa betul mulai lusa kita tetap bangun sebelum subuh untuk beribadah?

Apa betul sepanjang hari kita masih tetap berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah, menjaga lisan, dan melawan nafsu keburukan?

Apa betul setiap hari/malam kita tetap setia membaca berlembar-lembar mushafNya lalu merenungkan ayat-ayatNya?

Apa betul kita masih istiqomah menyegarakan sholat isya spt halnya di bulan ramadhan krn segera ingin sholat tarawih?

Apa betul kita masih berkenan bersedekah meski tanpa imbalan pahala yg berlipat-lipat?

Apa betul bulan ramadhan telah "membiasakan" diri kita untuk beribadah?
Apa betul ketika syawal tiba dan setelahnya kita telah siap meneruskan apa yg kita mulai di bulan Ramadhan?


Ilahi Robbi,
Mungkin saja ini ramadhan terakhir kami,
Jadikan lah setiap kebaikan yg kami lakukan semuanya karena hanya mengharap ridhoMu,
Meski kami tau,
kami adalah hamba yang (masih) selalu mengharap imbalan dariMu.


Ya ilahi,
Jika ini ramadhan terakhir kami, 
Semoga ini menjadi ramadhan penuh keberkahan untuk sisa hidup kami,
Dan jika esok lusa adalah hari kemenangan terakhir kami,
Semoga Engkau jadikan kami termasuk hamba yg kembali fitri, dan terus menjadi fitri berkat bimbinganMu.

Aamiin. Aamiin. Aamiin.

Ini keresahanku,
Apa, keresahanmu? 

#Ramadhankareem
#CoretanHam
#Let'sInspire

Keresahan ini sebelumnya saya tulis di akun facebook saya di tengah kesyahduan malam terakhir Ramadhan 1441 H/ 22 Mei 2020.

10 Hal yang Kalian Harus Tau tentang Ujian Semster di Bangku Perkuliahan

Hai teman, ketemu lagi nih ehhehe..

Oke, saya mau bahas sedikit tentang tipe- tipe soal ujian mahasiswa yaa..

Sebelumnya, kalau di sekolah mekanisme ujian hampir semuanya sama ya, biasanya sih dateng ke sekolah, tempat duduknya udh ditentuin sesuai nomor ujian, trus dikasih soal multiple choice sm essay, udah selesai. Sama ngga sih mekanisme ujian di  perkuliahan dg sekolah?

Jawabannya, tidak sepenuhnya sama. Ada beberapa perbedaan antara ujian di sekolah sm di perkuliahan. Coba perhatikan baiq-baiq yaa..

Disclaimer: Apa yg saya sampaikan adalah opini saya berdasarkan pengalaman kuliah saya. Jadi tidak bisa digeneralisir ya teman-teman. Bisa jadi di luar sana ada yg berbeda. Oke?


1. Tempat duduk

Kalau siswa punya nomor ujian, mahasiswa juga punya nomor ujian. Tempat duduknya pun juga ditempel nomor ujian, jadi kita duduk sesuai nomor. Biasanya sih masih urut presensi. Tapi, jarak antar tempat duduk diberi ruang kurang lebih 1 meter.


2. Syarat masuk kelas saat ujian

Di kampus saya ada hal wajib yang harus dibawa saat ujian, yaitu kartu tanda mahasiswa (ktm), atau kartu pelajar kalau di sekolah dan kartu rencana semester (krs). Apa tuh krs? Krs adalah lembaran yg berisi mata kuliah yang kita ambil selama satu semester, yang sudah dibubuhi ttd dosen wali. 

Kenapa ktm dan krs dibutuhkan saat ujian?

Ktm menunjukkan nomor induk mahasiswa (nim) dan foto mahasiswa. Jd ktm sebagai bukti bahwa peserta ujian betul-betul mahasiswa kampus tersebut. Di ktm juga ada foto mahasiswa. Jadi, selain fungsi yg telah saya sebutkan, ktm juga menjadi bukti bahwa orang yang datang mengerjakan adalah org yg sama dengan nama dan foto di ktm. Ini dilakukan untuk menghindari proses curang saat ujian (perjokian). Perjokian adalah proses di mana ada orang yang membayar orang lain untuk mengerjakan ujian yg seharusnya ia lakukan. Ini tindakan tidak baik ya teman, jd jangan ditiru 😊

Nah, kalau krs dibutuhkan sebagai bukti bahwa peserta ujian merupakan mahasiswa yang mengambil mata kuliah yg sedang diujikan yg telah diambil di awal semester dan disetujui dosen wali. Jadi, mahasiswa tidak bisa asal ikut ujian yg ada. Harus sesuai dg mata kuliah yg ada di lembar krs mereka.

Jadi jangan sampai ketinggalan ya ktm dan krsnya. Karena, pengawas pasti mengecek ktm dan krs kalian saat memberi presensi ujian. Kalau ndak bawa gmn? Opsinya ada 2. Ga bs ikut ujian, atau mahasiswa disuruh pulang ngambil 😅


3. Tipe-tipe soal ujian

Soal-soal ujian di perkuliahan bermacam-macam. 

a. multiple choice (pilihan ganda)

Ada yg 100% multiple choice. Jumlah soalnya biasanya 50-100 soal. Waktu mengerjakannya cukup singkat karena kita hanya perlu menyilang atau menebalkan lembar jawaban. Waktunya berkisar 60-100 menit aja. Nah karena hanya ada satu jawaban benar dalam soal multiplechoice, maka biasanya lembar jawaban dikoreksi menggunakan scanner, hampir semua dosen menggunakan scanner. Jadi yg perlu dicatat apabila soalnya multiple choice adalah, coretan (x atau penebalan) harus tebal, supaya terdeteksi mesin scanner. Dosen tidak pernah mewajibkan memakai pensil 2B. Pakai bolpoin juga bisa, asal tebal agar terbaca jawabannya saat dikoreksi mesin scanner.  

b. Essay

Ada yang 100% essay. Biasanya jumlah soal tipe ini tidak banyak. Maksimal 15 soal, itu udh banyak banget. Karena, model essay di perkuliahan biasanya lebih ke soal studi kasus yg mengutamakan nalar dr temen-temen. Jd dosen memberi sebuah contoh masalah tentang suatu topik, dan kita diminta untuk memberi solusi berdasarkan teori yg ada. Berbeda dg soal di sekolah yg biasanya soal essay lebih banyak menanyakan perihal teori.  Untuk tips soal essay, tulisan harus bisa terbaca dosen (ndak harus bagus), karena jika tdk terbaca, maka dianggap salah karena gimana dosen bisa ngerti kalau dibaca aja ngga bisa ? 😅

Jawaban jangan belepotan ngalor ngidul, yg penting to the point (bukan berarti ga boleh pnjang ya). Karena jawaban essay berbeda-beda, maka dosen akan mengoreksinya secara manual, begitu juga dg pmberian nilainya yg tidak mutlak sprti nilai multiple choice. Biasanya di lembar soal ujian, juga dicantumkan skor nilai maksimal yg bisa diperoleh. Misal no 1 skor 20, no 2 skor 30, begitu seterusnya. Jadi, tips lagi nih, usahakan untuk mendahulukan menjawab soal yg skornya tertinggi, untuk mengantisipasi waktu habis sebelum temen2 menyelesaikan semua soal. Terakhir, untuk model soal essay, usahakan jangan sampai ada jawabn kosong. Jawab sebisa mungkin, karena dosen akan menghargai kawaban temen2 meski hanya dikasih poin 2, lumayan kan? 😅

Jumlah soal essay juga bisa lo cuma 2 soal. Ha 2 soal yg bener? Iya, jumlah soalnya memang cuma 2, tapi jawabnnya bisa sampai 2 lembar bolak balik alias 4 halaman. Hahahaha

So, yg sabar kalo dapat soal 100% essay 😅😅

c. Gabungan

Ini kombinasi antara multiple choice dengan soal essay. Tapi, saya jarang menemui soal ini. Mungkin krn dosen harus dua kali mengoreksi ya. Kalaupun ada biasanya soal multiple choicenya ndak banyak, sekitar 20-25 soal. Sisanya 5-10 soal berupa essay. Yg mana yg perlu didahulukan?
Liat dulu skor maksimal untuk masing-masing tipe. Baru kita bisa memutuskan mana yg sekiranya perlu didahulukan.

4. Soal Take Home

Nah, ini yg kurang disukai banyak mahasiswa. Wkwk
Soal takehome adalah soal ujian yg dikerjakan di luar kelas. Bisa di kampus, atau di kos, bisa juga dikerjakan bareng sama temen-temen. Wih, enak dong?

Ets, sabar dulu.
Karena "enaknya" itu, makanya soal takehome biasanya lebih susah karena waktu yg diberikan juga biasanya lebih lama. Waktu mengerjakannya bisa smpe 3-7 hari lo, tergantung tingkat kesulitannya. Contoh penugasan ujian yg bersifat takehome adalah bikin makalah, paper, perencanaan, jurnal, dsb. Ada juga yg dibuat kelompok. Jadi, agak unik memang soal takehome ini.

Yg mesti diperhatikan adalah temen2 harus ontime saat mengumpulkan tugas takehome. Karena akibatnya bisa smpai fatal kalau tdk ontime, mulai pengurangan nilai sampai tugas dianggap tidak dikerjakan alias nilai ujian 0 😐

5. Praktik percontekan

Saat kuliah, praktik percontekan ruangnya sangat dipersempit. Mulai dr soal essay yg berupa studi kasus (jd tidak memungkinkan untuk nyontek), jarak tiap kursi +- 1 meter, waktu ujian yg sgt singkat sdgkan jwbannya sgt menguras tenaga jari 😅, boro-boro mau ngasih contekan, kerjaan sendiri aja belum kelar kan 😅, smpai hukuman yg berat bagi yg nyontek dan ngasih contekan. Hukumannya mulai dr pengurangan nilai, nilai ujian 0, bahkan ada lo yg kalo ketahuan ujian nyontek atau ngasih contekan otomatis ngga lulus mata kuliah tersebut. Jd memang sangat tegas peraturan saat ujian kampus. Apalagi kesadaran mahasiswa yg mungkin lebih besar bahwa mencontek sama sekali tidak bagus untuk perkembangan dirinya. 

6. Gelagat Pengawas

Saat ujian, biasanya ada 2-3 pengawas yg terdiri atas dosen dan staf. Kebanyakan, para pengawas sudah dibriefing agar tidak jalan-jalan saat ujian berlangsung ataupun ngobrol, karena bisa mengganggu konsentrasi mahasiswa. 
Ohiya,biasanya di awal dosen sudah memberi tahu konsekuensi jika mahasiswa ketauan melakukan praktik percontekan. Karena itulah, para staf lebih dimudahkan saat mengawasi ujian, tidak sprti saat di sekolah yg mungkin lbh bnyak praktik percontekan yg membuat pengawas ujian kerja ekstra mengawasi siswa.

7. Selesai, langsung kumpulkan.

Saat temen2 mhs udh slesai jawab soal, mereka diperbolehkan langsung mengumpulkan jawaban dan meninggalkan ruangan ujian. Berbeda dg ujian sekolah yg kebanyakan mengharuskan siswanya mengumpulkan jawaban setelah menunggu wktu ujian selesai.

8. Jangan telat mengumpulkan jawaban

Sebagian dosen sangat tegas dg tidak menerima jawaban mahasiswa jika dosen telah meninggalkan ruangan. Tidak ada toleransi. Jadi, ketika waktu habis meskipun kalian sedikit lagi selesai, jangan diteruskan, langsung kumpulkan, dr pd jawabn kalian ngga diterima dan nilai 0 kan? 😊

9. Pastikan ruangan dan waktu ujian sesuai jadwal.

Banyak sekali mahasiswa yg lalai dalam kasus ini sehingga harus merelakan mata kuliah mereka 😅 
Kebanyakan lupa jadwal, jd kalian ingat dan catat kapan wktu ujian, di ruang apa, biar ngga ketiduran  waktunya ujian 😅. Memang, ada sebagian dosen yang mentolerir, tapi kebanyakan sih engga ya karena salah kita sendiri. 

10. Telat masuk ruangan

Beberapa dosen tidak masalah ketika ada mahasiswa yang telat  datang  saat ujian. Konsekuensinya, ya mahasiswa mengerjakan ujian dg sisa waktu yg ada. Ada juga dosen yang memberlakukan peraturan bahwa mahasiswa yg telat tidak boleh masuk. Itu artinya mhs tersebut tdk bisa ujian. Itu juga artinya nilainya 0. Jadi, pastikan kalian tau model dosen kalian sprti apa, caranya? Tanya dong ke kakak tingkat (kating) 😊

Udah, gitu aja ya,
Semoga ada nilai yang menetap di hatimu, dan berguna di hidupmu 😊

Sampai jumpa di coretanham berikutnya.. 😊

#CoretanHam
#Let'sInspire

Wednesday, June 3, 2020

Spot yang pas buat naik ojek online di stasiun gubeng Surabaya

Kalau temen-temen baru sampai di Stasiun Gubeng, kalian ngga bisa naik ojol di sembarang tempat, karena ada posisi yang telah disepakati ojol dengan ojek konvensional di sana. Di mana tempat kalian bisa nunggu ojol?

1. Kalau turun di Stasiun Gubeng Baru (Stasiun gede, bangunan modern)



    Stasiun Gubeng Baru (tripadvisor.co.id)



Sesaat setelah turun, kalian ikuti petunjuk arah pintu ke luar, ketika keluar peron ada 2 pilihan yang bisa kalian ambil.

Pertama. Keluar peron, kalian belok kiri lurus aja sampai ketemu pintu keluar parkir motor stasiun, Setelah keluar, kalian akan melihat fly over. Temen-temen bisa nunggu bapak ojol di bawah fly over. Jadi kalo ditanya posisi di mana? jawab aja, di bawah jembatan depan parkir motor :)

Atau pilihan kedua.

Ketika keluar peron, kalian jalan ke arah kanan sampai ke gerbang pintu masuk stasiun, trus jalan ke arah kanan sampai ketemu masjid. Ya, kalian bisa nunggu bapak ojol di depan masjid. Kalau tanya posisi dimana, jwb aja di depan masjid :)


2. Kalau turun di stasiun gubeng lama (Stasiun agak kecil dg arsitek bangunan kuno/klasik)

    Jadwal & Tiket Kereta Api Surabaya - Malang | Traveloka
    Stasiun Gubeng Lama (Traveloka.com)

Nah stasiun ini tidak terlalu besar. Jadi, ketika kalian keluar stasiun langsung belok kiri, jalan aja terus ngikuti trotoar sampai ketemu hotel sahid. Biasanya di situ para ojol naikin penumpang. Jadi klo ditanya posisi di mana? Jawab aja, di depan hotel sahid :)

Ye, selamat mencoba :)

#SuroboyoNyel
#CoretanHam
#Let'sInspire

#EnglishHack- 3 Perbedaan Penggunaan to+Infinitive

Infinitive = Kata dasar dari kata kerja
to + infinitive = to + kata dasar----> misal: to sit

Ini dia, 3 tempat kita bisa menggunakan to+infinitive:

1. Setelah Adjective (Kata sifat)

Misal :

It's easy to learn English with you (Mudah ya belajar bahasa inggris bareng kamu)

Kata sifat/adjective dalam kalimat tersebut adalah easy (mudah)
Sedangkan to+infinitive dalam kalimat tersebut adalah to+learn


2. Ketika ingin menjelaskan alasan atau tujuan kita melakukan sesuatu

Misal:

I went to the shop to buy some milk (Saya pergi ke toko untuk membeli beberapa susu)

to+infinitive di sini adalah to buy    yang menjelaskan alasan kenapa saya pergi ke toko.


3.  Setelah Quantifiers

Quantifiers adalah kumpulan kata yang digunakan saat menyatakan jumlah.
Contoh:
Few, little (Sedikit)
A lot of, many (Banyak)

Kuncinya adalah: 

         Quantifiers + Noun + to infinitive

I have too many emails to send  (Saya memiliki banyak sekali email untuk dikirim)

There is not enough time to get to the station ( Tak ada waktu banyak menuju ke stasiun)


Gitu aja, Gampang kan? 
Thank you all, 
Let's get another english hack :)

#5minutesenglishhack
#CoretanHam
#Let'sInpire

Sumber:
www.bbclearningenglish.com
wordsmile.com
ef.co.id




Tuesday, June 2, 2020

Mengapa Kuliah itu Penting . . .

Ada yang bilang, kuliah itu ngga penting. Ah, masak sih...

Let's talk about this!

Disclaimer: Apa yang saya tulis adalah opini saya berdasarkan apa yang saya alami selama kuliah sarjana.

Teman-teman, saat kita berbicara tentang kuliah, kita tidak hanya berbicara tentang belajar di kelas. Tetapi, kita belajar hidup.

Saya bisa bilang, bahwa ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama kuliah 4 tahun ekstra 1 tahun (ehehe) lebih banyak dan berharga dari pada saat belajar di sekolah selama 12 tahun. Kok bisa? Mari simak baik-baik.

1. Kuliah tempat belajar Mandiri

Saat sekolah, keterlibatan guru dalam proses pembelajaran siswa masih sangat besar. Mulai dari menyediakan buku yang akan kita pakai di kelas, lalu menjelaskan materi di hampir 100% jam pelajaran, memberi penjelasan yang begitu rinci bahkan ada sebagian guru yang ingin memastikan bahwa semua siswanya betul-betul memahami materi yang dijelaskan, peduli dengan kehadiran/ketidakhadiran siswa, menjelaskan materi minggu lalu meski sudah lewat topiknya, memberi toleransi kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas karena sebab tertentu, misal sakit atau organisasi, dsb, dan masih banyak hal lain yang melibatkan guru dalam pelaksanaannya. Jadi, guru masih sangat "memanjakan" siswanya.

Mari kita lihat fenomena di bangku perkuliahan. Sekali lagi apa yang akan saya sampaikan adalah berdasarkan pengalaman saya,tidak bisa digeneralisasi, bisa jadi di luar sana ada yang sama atau berbeda.

Saat pertemuan pertama di awal semester, dosen akan memberi mahasiswa kontrak perkuliahan. Apa itu? Yakni semacam "Kesepakatan" antara dosen dengan mahasiswa tentang pembelajaran yang akan dijalani selama satu semester. Jadi, mahasiswa diberi tau materi-materi yang akan diajarkan pada minggu pertama smpai minggu terakhir, termasuk kapan kuis (ulangan), uts, uas, penugasan dsb. Selain itu, dosen juga menawarkan persentase nilai/bobot dari masing-masing tugas, misal tugas 10%, uts 30%, uas 40%, dsb. Di sinilah mahasiswa memiliki kesempatan untuk menawar bobot tersebut, misalkan bobot uts 30%, apabila mahasiswa keberatan maka nilai persentasenya bisa diubah sesuai kesepakatan seluruh mahasiswa dan dosen.

Ada pelajaran yang bisa diambil di sini, bahwa mahasiswa diberi hak untuk terlibat dlm membuat keputusan yang menyangkut dirinya.

Selain kontrak perkuliahan, dosen biasanya akan memberi tau mahasiswa buku apa yang digunakan untuk perkuliahan tersebut. Ya, betul, mahasiswa diberi tau judul buku dan penulisnya, bukan disediakan bukunya layaknya siswa di sekolah. Selanjutnya, mahasiswa diberi kebebasan untuk membeli buku atau tidak, atau mencari referensi lain. Intinya, entah bagaimanapun caranya asal dpt membantu memahami materi.

Selain buku, cara yang sering dipakai dosen dalam menyampaikan perkuliahan adalah presentasi menggunakan powerpoint (ppt), video, atau media digital lainnya, tapi mayoritas menggunakan ppt. Dalam sekali pertemuan, biasanya membahas 1 bab. Pertemuan berikutnya, sudah ganti bab. Ganti bab ya, bukan sub bab.  Dalam waktu 100-200 menit atau bs jg lebih tergantung jumlah sks, dosen menjelaskan materi  ppt yg dirangkum dlm poin-poin penting. Ketika waktu habis, maka selesai pula sesi penjelasan untuk materi tersebut. Jadi, waktu di kelas adalah waktu emas karena dosen tidak akan mengulang di luar kelas ataupun di pertemuan selanjutnya krn sudah berbeda topik. Bagaimana kalau kita belum paham? Di sini mahasiswa dituntut mandiri untuk membaca referensi sebanyak-banyaknya, tidak hanya mengandalkan penjelasan dosen saat di kelas. Karena mayoritas dosen tidak mau menjelaskan materi ketika di luar kelas, meski sebagian kecil masih ada yg mau. Sebab, tugas dosen tidak hanya mengajar. Jika kita tidak memperhatikan dosen saat di kelas dan tidak pula membaca dari referensi lain saat di luar kelas, maka tingkat pemahaman mahasiswa terhadap suatu topik bs jd akan sangat kurang.

Kenapa seperti ini?

Saat kita menjadi mahasiswa, kita bukan lagi "anak" sekolah, karena mahasiswa dianggap orang dewasa yang (seharusnya) sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Dengan kata lain, kalau kita ingin menguasai materi, ya pikirkan cara yg terbaik untuk diri kita.

Bagaimana dg Tugas ?

Dosen saat memberi tugas biasanya juga memberi waktu pengumpulan/deadline. Banyak dosen yang menerapkan peraturan ketat dalam pengumpulan tugas. Misal nilai tugas kosong jika telat mengumpulkan, atau pengurangan nilai, dsb. Ada dosen yang tidak peduli bagaimana mahasiswa mengerjakan tugasnya, misal dg belajar kelompok, atau mencontek itu semua urusan mahasiswa asal tugas dikumpulkan tepat waktu. Sekali lagi, karena mahasiswa dianggap orang yang mengerti apa yang mesti dilakukan. Sebaliknya, ada juga dosen yg sangat ketat, bila melihat ada jawaban yang sama, semua yg terlibat akan diberi nilai 0. 

Apabila kita tidak mengumpulkan tugas, maka otomatis nilai tugas 0. Kalau sakit, bagaimana? Sebagian dosen tidak peduli apa yg terjadi pada mahasiswa asal tugasnya terkumpul sesuai deadline. Tapi, sebagian lain, ada yg menanyakan kenapa tugas si A tidak ada. Jadi kalau ada mahasiswa yg sakit pas ada tugas, mhs tersebut harus konfirmasi dulu ke dosen trkait kondisinya, bisa jd dg begitu dosen akan memiliki kebijakan lain.
Lagi-lagi, mahasiswa yang harus mandiri dan inisiatif . Tidak bisa menggantungkan ke teman, saudara, atau keluarga, apalagi ke dosen ehehe. Ya, karena mahasiswa yang butuh. Sesimpel itu. . .

Contoh di atas hanyalah sebagian dari kemandirian saat kuliah/belajar. Itu pun, tidak berhenti di situ. Karena jika mahasiswa kuliah di perantauan, maka mereka juga dituntut mandiri dalam menjalankan hidup. Mulai urusan perut, biaya kuliah, print, event, biaya kos, mencuci baju, piring, bersih-bersih dsb. 

Termasuk, mandiri saat menyelesaikan masalah. Ini pelajaran baru buat saya yg begitu menempel. Saya hidup di perantauan. Banyak hal tak terduga yg biasanya mudah diselesaikan saat masa sekolah menjadi tak mudah saat kuliah. Misal perihal hubungan pertemanan, dengan teman kuliah, dengan teman kos, dengan ibu kos, dengan tetangga ataupun dosen. Coba deh tanya ke kenalan kalian, pasti ada aja masalah ketidakcocokan ini. Apa kemudian ketika merasa tidak cocok dg 1 atau 2 orang kita langsung bs pergi begitu saja? Iya, kalau org itu tdk berperan penting dlm keberlangsungan kuliah kita. Kalau berperan penting, bagaimana?  Sekali lagi, kita dituntut untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. Kita tdk bs melibatkan orang tua, saudara, atau keluarga dlm hal ini. Kita yg harus menyelesaikan. Ndak bisa tiba-tiba  lari dr masalah, krn kebanyakan ini menyangkut keberlangsungan kuliah dan hidup kita di perantauan. Keadaan yg memaksa spt ini membuat kita mnjdi mandiri dan tidak lembek ketika ada kesulitan.

Jadi, kuliah merupakan masa-masa saat mental kemandirian kita dilatih. Agar diri kita mampu diandalkan. Dan agar kita tidak mudah bergantung kepada orang lain. Be Independent. Temen-temen ada opini juga kah tntg kemandirian ? :)

Ruang Praktikum biologi dasar, laboratorium biologi FST Unair
Di Ruang Praktikum Biologi, FST Unair



2. Kuliah tempat belajar Bertanggung Jawab


Banyak peristiwa saat kuliah yang menuntut kemampuan tanggung jawab kita. Secara akademik, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk belajar dengan baik. Bukannya gampang, belajar aja? Tidak semudah itu, fergusoo.
 Belajarnya gampang, ngilangin malesnya, nyisihin waktunya, memulai buka bukunya, pegang laptopnya, ngurangin egonya, nahan kantuknya, itu lo yang sulit. Terlebih banyak kegiatan yang bisa diikuti mahasiswa di luar kelas, misalnya seminar, workshop, ekskul, lomba atau bahkan  maen game, ngemall, tiduran, liat drakor, dan godaan-godaaan lain yang membuat fokus dlm belajar saat kuliah tidak semudah itu. Apalagi tdk ada yg mengingatkan / moodbooster krn jauh dr org tua dan saudara. Kalau kita tidak bisa membagi waktu dengan baik, tidak pula ingat akan tanggungjawab utama seorang pelajar, ya belajar tinggal jadi angan :'

Nah, kuliah menjadi saat kita belajar untuk bertanggungjawab kpd orang tua kita yg telah membiayai. Kalau beasiswa, gimana? Justru kalau kita mendapat beasiswa tanggungjawab kita jauh lebih besar, krn uang yg kita pakai bukan hanya uang satu bapak dan satu ibuk, tapi uang hasil keringat dari ribuan keluarga yang telah menyisihkan hasil kerjanya berikut harapan yg menyertainya.
Itu tadi masih secara akademik.  Lalu, tanggung jawab lainnya apa?

Jika mahasiswa mengikuti organisasi, biasanya ia akan mendapatkan tanggungjawab sesuai posisi yg ditempati, atau bertanggung jawab merealisasikan program kerja yang sedang dikerjakan. Ini sangat tidak mudah, sebab biasanya dlm kegiatan, banyak orang yang terlibat berikut karakter dan pembawaan masing-masing. Jadi, bagaimana tiap individu bisa saling bekerja sama  dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Bahkan jika posisi kita ketua atau koordinator, bisa jadi kita juga bertanggungjawab atas pekerjaan orang lain. Tangungjawab adalah ilmu praktis. Semakin dilatih semakin kita terbiasa dan mampu bertanggungjawab dengan semakin baik. Sebaliknya, tanggungjawab tidak akan muncul dengan sendirinya jika kita hanya mempelajari teorinya saja. Nah organisasi, kepanitiaan, kegiatan ekstra yg ada di dunia perkuliahan menjadi wadah dan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengetes rasa tanggungjawabnya

Aksi Lingkungan 2016 HMTL Unair
Teman-Teman Enviro 8 yang juga panitia Aksi Lingkungan 2016 HMTL Unair


Banyak kesempatan saat kuliah yang bisa melatih sikap tanggungjawab kita, misal mengikuti kepanitiaan, menjadi asisten dosen, menjadi pengurus organisasi, ikut terlibat dlm proyek dosen, dsb. Atau jika kita hidup bersama kos atau asrama, banyak kesempatan untuk belajar bertanggungjawab. Sekali lagi, ini tergantung kemauan kita. Kita bisa memilih untuk belajar bertanggungjawab dengan mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi tersebut. Atau sebaliknya, santai-santai tiduran di kos sambil liat drakor :) Yang menanam tentu yang akan memanen, kan ? :)

Waktu kuliah 4-6 tahun menjadi masa yg cukup panjang dlm proses pembelajaran tanggungjawab dg tingkatan yg terus naik. Saat mahasiswa baru (maba) misalnya, mungkin tanggungjawab kita masih sebagai staf, bertanggungjawab menjalankan tugas yg diberi atasan. Tahun kedua kuliah, bisa jd posisi kita ganti koordinator yg memiliki staf. Tentu tanggungjawab kita meningkat. Kita bertanggung jawab atas kinerja staf di divisi kita. Tahun berikutnya, bs jadi kita menjadi ketua organisasi yg membawahi banyak koordinator dan staf serta bertanggungjawab atas suksesnya banyak program kerja. Ini yg saya sebut medan perang. Semakin bnyak perang yg kita lakukan, semakin hebat trackrecord kita, semakin lanyah sikap tanggungjawab yg kita miliki.

Environmental Festival 2016 HMTL Unair
Saat menjadi Sie Sponsorship di Environment Festival 2016 HMTL Unair


Yakinlah, seiring bertambahnya usia, bertambahnya semester, bertambah banyak dan kompleks pula masalah kita. Tentu kita orang yang paling bertanggung jawab menyelesaikan masalah di hidup kita.


3. Kuliah tempat Meningkatkan Kemampuan Berfikir dan Membuat Keputusan

Perbedaan mencolok yang saya rasakan saat kuliah dan sekolah adalah pengembangan kerangka pikir saat proses transfer materi. Saat sekolah, saya merasa lebih banyak diberi tau. Tetapi saat kuliah, saya merasa lebih banyak mencari tau. Mungkin karena penjelasan dosen yg mampu membuat mahasiswa menjadi berfikir dan kemudian bertanya, kok bisa seperti itu. Mungkin jg karena banyaknya materi dan terbatasnya waktu mnjdikan bnyak hal yg tdk tersampaikan saat di kelas dan kita harus mencari tau sendiri di luar kelas. Mungkin juga karena, porsi ceramah dosen yg lebih singkat, dan memperbanyak porsi diskusi.

Ini menarik menurut saya. Diskusi mengajarkan banyak hal. Ada pemateri, pemantik, dan peserta. Dalam diskusi tentu pembicaraan tidak hanya satu arah. Ada feedback yg diberikan. Ada sanggahan, ada yang ingin melengkapi. 


Saat banyak kepala dg isi yg berbeda-beda dipertemukan dalam sebuah forum, tentu akan melatih kemampuan berpikir kita. Barangkali si A memiliki pemikiran yg tdk dimiliki si B yg kemudian memperkaya perspektif si B. Atau barangkali si C yg awalnya tak punya ide mendengar pendapat si D menjadi punya ide.  Atau si X yg pendapatnya sangat kontradiktif dg pendapat si Y. Pernah ngga sih kita berfikir, kok bs ya orang setuju dg suatu hal yang kita tidak menyetujuinya? Logika apa yg sedang dipakai? Kok bisa org berfikir dr sudut pandang A? Kok saya tidak kepikiran. Semakin banyak peserta barangkali menjadikan semakin kaya perspektif kita, bertambah pula kemampuan berpikir kita. 

Rapat-rapat dalam suatu kepanitian, ngobrol dengan teman, diskusi tentang suatu hal, adu argumen dlm kelas, itulah hal-hal yg dapat menajamkan kemampuan berpikir mahasiswa, bukankah otak layaknya pisau yang  jika semakin diasah akan semakin tajam? Bukankah pisau yg tak pernah dipakai akan menjadi tumpul? Kiranya demikian jika kita jarang mengetahui perspektif orang lain, otak kita akan tumpul dan terkungkung dalam perspektif kita sendiri.

Kemampuan berpikir inilah yg nantinya menjadi bekal saat kita dihadapkan dalam suatu masalah dan dituntut untuk membuat keputusan. Saat mengasah kemampuan berpikir, kita berusaha keras memikirkan suatu hal dr sudut pandang A, B, C, sebanyak sudut pandang yg bisa kita lihat.
Akhirnya kita terbiasa untuk melihat satu hal dari banyak perspektif. Ketika harus membuat keputusan, org yg terasah kemampuan berpikirnya, tentu tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Banyak perspektif yg ia gunakan. Bagaimana jika memilih opsi A, apa dampaknya, apa manfaatnya. Apa mudharatnya. Bagaimana pula jika opsi b, c atau d dst yg diambil. Tentu keputusan yg diambil tergesa-gesa dg keputusan yg dipikir matang baik buruknya, dan dg mempertimbangkan bnyak hal akan memiliki dampak yg berbeda.

Abdi Desa HMTL Unair 2016 di Desa Pucukan, Sidoarjo
Abdi Desa HMTL Unair 2016 di Desa Pucukan, Sidoarjo


Kuliah juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terbiasa mengambil keputusan. Mulai keputusan untuk belajar saja atau sambil berorganisasi. Ikut satu organisasi atau ikut juga kepanitiaan. Kuliah aja atau kuliah sambil kerja. Ikut kegiatan ekstra apa ngga. Tinggal di kos atau di asrama, sampai dg keharusan mngambil keputusan saat menjalankan program kerja yg melibatkan langsung masyarakat. Terbiasa dalam membuat keputusan menjadikan mahasiswa terlatih untuk memutuskan hal yg berat dan bisa belajar dari baik/buruknyaa keputusan-keputusan yg pernah dibuat sebelumnya.

4. Kuliah tempat belajar Optimis Mencoba Hal Baru & Berani Melawan Ketakutan dan Keraguan

Saat kuliah, banyak hal-hal baru di hidup saya yang awalnya saya tidak pernah terfikirikan untuk melakukannya  dan juga tidak menyangka bisa merealisasikannya, Ternyata, bisa lho ...

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Unair 2016
Bersama teman-teman dan kakak tingkat pengurus HMTL Unair 2016


Tahun pertama saya kuliah (maba), saya mengikuti organisasi dengan menjadi staf Pengabdian Masyarakat di Himpunan mahasiswa jurusan. Untuk pertama kalinya, saya kembali mengikuti sebuah organisasi setelah terakhir kali saya aktif di OSIS saat SMP. Untuk pertama kalinya juga, saya mendapat amanah untuk menjadi penanggung jawab salah satu proker di himpunan tersebut. Saya sangat ragu mulanya. Saya juga sangat takut, jujur saja lama tidak mengikuti organisasi membuat saya kaku saat dihadapkan sebuah tantangan baru. Saya sudah berniat mundur. Tetapi, kepala divisi saya (yang pernah saya ceritakan di artikel Menggapai Impian ke Jepang) begitu yakin dan meyakinkan saya kalau saya bisa. Saya sebut merk ya, namanya mbak mia ehehe (Thank u mbak ❤ ). Mbak mia telaten banget mengarahkan saya (ngasih briefing) step by step apa yang harus saya lakukan sebagai penanggungjawab. Saya melihat,mbak mia tidak sedang menganggap saya maba karena saya tidak melihat keraguan sedikitpun ketika mbak mia memberi jobdesk pertama saya (ini sudut pandang saya, ya).  Beberapa kali kita ngobrol, akhirnya saya beranikan dan yakinkan diri saya untuk, oke i'll do it!

Dalam perjalanannya tidak mudah, mulai mengajak teman-teman (notabenenya adalah teman-teman yg baru saya kenal di perkuliahan) untuk bergabung menjadi panitia. Saya belajar bagaimana memimpin sebuah rapat. Saya pernah hampir menyerah, ketika saya sulit mempertemukan berbagai pendapat dari banyak teman saat rapat. Saya pun kesulitan untuk membuat keputusan. Ada kakak tingkat (kating) yang menyadari kebingungan saya ini. Ia ngajak ngobrol saya face to face untuk memberi briefing, tips, bagaimana menghadapi situasi seperti itu.

This! Ketika kita berani mengambil keputusan, artinya kita harus berani menghadapi kesulitan dan resiko atas keputusan yang kita ambil

Dengan adanya kesulitan tersebut, kita tidak tau tiba-tiba ada saja jalan keluar/pertolongan yg datangnya bs dr siapapun yang membuat kita bisa menyelesaikan kesulitan yang ada. Akhirnya kita jadi belajar hal baru. Kalau kita tidak berani mengambil keputusan untuk mencoba hal baru, tentu kita tidak pernah bertemu dg kesulitan tersebut. Artinya tidak bertambah pengalaman dan pelajaran baru dalam hidup.

Masih dalam perjalanannya, saya juga banyak dibantu teman-teman panitia (Terimakasih temen-temen ev8) dalam menyelesaikan masalah yg ada. Bantuan datang melalui saran mereka, tenaga, relasi, pengalaman mereka yang akhirnya kita berhasil melaksanakan proker tersebut. Teman-teman saya tidak sungkan untuk mengungkapkan kekurangan saya, misal saya kurang tegas, kurang cakcek (gesit), kurang koordinasi, kurang disiplin, dan kekurangan-kekurangan lainnya. Hal itu ternyata menjadi bekal yang amat sangat berharga bagi saya dalam proses belajar berorganisasi di kemudian hari (Thank you all ❤ )

Jadi, memang tidak semuanya bisa berjalan dengan baik, mulus, sempurna, terlebih jika itu pengalaman pertama kita. Tapi, setidaknya, hal itu bisa menjadi bekal untuk pengalaman kedua, ketiga, keempat, dst. Karena jika kita tidak pernah mencoba, semua hal akan terus menjadi pengalaman pertama, tidak ada pengalamn baru, dan kita terus terkungkung dalam ketakutan yang kita bikin sendiri.
Ayo gaes, jangan takut mencoba hal baru. Kalahkan ketakutan yang jangan-jangan itu hanya ruwwwett di pikiranmu sendiri. Karena memang itu yang saya rasakan sebelum proker dimulai. Takut gagal, takut mengecewakan banyak orang, takut berhenti di tengah jalan (mandek), buktinya ndak seserem itu tho, malah proker berjalan dg baik (hamdalah) dan saya dapat ilmu, pengalaman, dan relasi baru.

Airlangga Bangun Desa BEM UNAIR di Jolosutro, Blitar, Jawa Timur
Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar


Pengalaman pertama tersebut, menjadi bekal yg begitu berharga bagi saya saat saya kembali diberi amanah sebagai penanggungjawab di proker yg skalanya lebih besar, di mana panitianya datang dari kalangan junior sampai senior dari fakultas yang berbeda-beda. Anggaran yang tinggi juga mengindikasikan bahwa ada tanggungjawab moral yang mesti diemban, terlebih proker ini melibatkan masyarakat langsung. Meski masih nervous, tapi setidaknya saya tak lagi kikuk saat harus memipin rapat, mengkoordinasikan teman-teman, berdiskusi, bagaimana cara berkomunikasi dg lawan bicara dengan karakter yang berbeda-beda. Pengalaman pertama betul-betul mempermudah jalannya pengalaman selanjutnya., meski tak selalu hasilnya sempurna dan menyenangkan banyak orang. Setidaknya, ketika kita telah berada di lapangan, kita menyadari bahwa tidak mudah menjalin kerja sama dengan orang lain, jadi butuh banyak latihan. Sekali lagi, bukan berarti setelah mendapat pengalaman saya menjadi sok bisa, justru semakin kita bertambah pengalaman, semakin kita menyadari kekurangan dan kelemahan diri kita. Betul itu,, Sungguhh.... Nah kesadaran atas kekurangan inilah yang bisa kita jadikan bahan perbaikan saat dapat challenge baru (lagi). Ya, begitulah hidup, Selalu ada challenge atau masalah baru dalam hidup agar kita terus belajar.

Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar
Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar


5. Kuliah Memahamkan Arti Mental yang Sebenarnya

Teman-teman, sebelum kuliah saya betul-betul tidak paham ketika ada orang lain bilang ga punya mental atau mentalnya tempe, atau perkembangan mentalnya kurang bagus, atau apapun itu yang menyebut kata mental. Sebab, saya sendiri belum memahami mental itu apa..

Jadi, mental itu apa . . . ?


Leadership Training HMTL Unair 2016 di ARMATIM Surabaya
Leadership Training HMTL Unair 2016 di ARMATIM Surabaya 


Saat pertama kali saya diberi tugas menjadi penanggung jawab, saya takut sekali ngga bisa. Tapi, saya memilih melawan ketakutan saya. Saat saya ikut Sakura Program Exchange ke Jepang (baca Menggapai Impian ke Jepang, ehehe promosi dikit), saya tidak pernah lolos seleksi. Tapi, saya ngotot yakin, meski saya tau yg kepilih hanya satu orang. Sekali lagi, saya memilih yakin dan tetap berikhtiar. Saat saya memutuskan ikut Program AYCE ke Singapore (ini juga ada artikelnya) padahal saya sadar ngga punya uang dan belum tau caranya, saya tidak memutuskan mundur. Sebaliknya, saya memilih untuk tancap gas. Saat teman-teman saya menghindari dan berdoa agar tidak mendapat dosen x sebagai pembimbing skripsi, saya menyalakan nyali dengan mengajukan dosen x sebagai pembimbing skripsi saya. Saat saya terseok-seok dalam perjalanan skripsi yang ngga kelar-kelar dan ada pilihan untuk ganti dosen pembimbing (jika mau dan jika disetujui), saya memilih melanjutkan apa yang saya mulai. Semua yang saya sebutkan itu sangat tidak mudah dalam proses pengambilan keputusan dan perjalanannya. Satu yang saya pikirkan pada saat-saat tersebut. Bahwa apabila saya tidak mencoba, maka saya tidak akan pernah tau hasilnya. Itu prinsip yang begitu menguatkan saya.

Pondok Pesantren Tahfidzil Qur'an (PPTQ) Ikhwan Al-Haromain Surabaya
Bersama keluarga PPTQ Ikhwan Al-Haromain


Saya perhatikan pola-pola di setiap peristiwa dalam hidup saya. Saya ingat dan pelajari nilai apa yang saya dapat setelah suatu peristiwa saya alami. Kemudian perlahan saya mulai sadar, bahwa saya telah belajar melawan ketakutan. Saya mengambil jalan sulit bukan maksud menyengsarakan diri sendiri, melainkan agar kerikil-kerikil yang akan saya temui tak mampu menjatuhkan diri saya. Saya belajar untuk bertahan dalam kesulitan dan ketidakpstian akan berhasil atau tidaknya usaha kita. Saya belajar meyakini pilihan yang saya ambil, menjalaninya dengan sepenuh hati sebagai rasa tanggungjawab atas pilihan yg diambil dan tidak menyalahkan diri apabila gagal. Saya belajar menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan sebagai wujud kepercayaan saya akan kebesaranNya. Saya belajar untuk jangan berkata "Tidak bisa" sebelum mencobanya. Saya belajar melapangkan dada ketika banyak peristiwa yang membuat dada sesak. Saya belajar kuat dari setiap ujian yang Tuhan kasih dengan cara tersenyum dan menahan umpatan saat menjalaninya.Saya belajar tidak mudah menyerah meski jiwa dan raga telah lelah. Saya belajar untuk tidak mudah kaget ketika ada batu sandungan di setiap perjalanan. Saya belajar dari teman, dosen, senior, junior, melalui kegiatan dan peristiwa yang terjadi selama hampir 5 tahun saya kuliah di perantauan. Harapan saya, semua itu dapat mendewasakan pikiran dan tingkah laku saya. Pada akhirnya semua itu membawa saya memahami bahwa setiap peristiwa yang datang di hidup kita sebagai media pembelajaran. Ini yang kemudian saya pahami sebagai Mentalitas. Sebuah seni dalam berpikir, bersikap, belajar dan merespon hal-hal yang datang di kehidupan kita.

Pantai Jolosutro Bitar
Bersama teman-teman panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Pantai Jolosutro, Blitar



6. Kuliah tempat Belajar Berproses, Mengenali Jati Diri, dan Menempa diri sebagai Bagian dari Proses Menuju Kedewasaan.


Banyak kesempatan saat kuliah yang menjadi wadah mahasiswa untuk berproses. Kampus barangkali layaknya mall yang komplit dengan toko-toko yang siap menyediakan produk-produk kehidupan. Mulai pembentukan pola pikir, kesabaran dalam berproses, membangun komunikasi dengan orang lain, belajar bekerjasama dengan orang-orang berbeda karakter, memperbanyak relasi, menimba ilmu, bekerja di bawah tekanan, bertanggungjawab, dan masih banyak produk (nilai) kehidupan lainnya.  Semua nilai-nilai itu kita dapatkan dari belajar dan diskusi di kelas, kerja keras saat menjadi panitia di suatu acara, saat bekerja dengan dosen melalui proyek-proyeknya dengan segala tekanan yang ada. Ada banyaakk sekali aktivitas yang bebas diikuti mahasiswa. Tapi, tentu tidak semuanya akan dipilih. Nah, saat proses memilih, mencoba hal baru, kemudian menjalani apa yg telah dipilih, saat itulah mahasiswa bisa menilai apakah mereka menjalani prosesnya dengan hati atau tidak.

Pun dengan saya. Saya sangat menikmati berorganisasi. Saya juga senang dan menikmati proses ngobrol dan diskusi. Saya juga sungguh menikmati ketika bisa terjun langsung ke lapangan melibatkan diri dalam kegiatan bersama masyarakat. Saat banyak teman saya yang heran ketika saya mengambil keputusan yang mereka hindari, saya tersenyum dan menjawab keheranan mereka dengan mengatakan bahwa saya menikmati proses dari keputusan yang saya ambil. Mungkin mereka tidak memahami keputusan saya, tapi saya sangat memahami apa yang saya putuskan. Saya semakin mengenali kemauan saya, dan mulai menemukan ruang-ruang di mana saya bisa berkarya dari hati serta menikmatinya. Semua saya dapatkan dari kesempatan kuliah di perantauan.


Panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar
Bersama teman-teman panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017


Kesempatan berkuliah adalah kesempatan emas saya untuk belajar hidup. Yang, pada akhirnya saya mulai rasakan hasilnya ketika kini dihadapkan pada beragam peristiwa. Saya mulai berpikir untuk terus berproses menjadi dewasa. Bagi saya, dewasa tidak ada batasnya. Jadi, berproses dalam menuju kedewasaan adalah keniscayaan yang mesti dijalankan selama raga masih bernyawa. 


Panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017 di Jolosutro, Blitar
Bersama teman-teman panitia Airlangga Bangun Desa BEM Unair 2017


hmmm. . . .

Coretan yang begitu melelahkan,
Tapi begitu menyenangkan bisa berbagi apa yang ada di pikiran,

Terimakasih teman-teman yang telah terlibat dalam dunia perkuliahan saya,
Terimakasih  karena kalian telah terlibat dalam proses belajar pendewasaan diri saya,

Terimakasih teman-teman yang sudah membaca,

Semoga ada nilai baik yang menetap di hatimu dan berguna di hidupmu ❤

Sampai jumpa di coretanham berikutnya yaaa....

#CoretanHam
#Let'sInspire